ANGIN KENCANG: Badai Tropis Masih Ancam Jogja
Angin kencang yang menerja DIY, Kamis (10/1/2013). (Desi Suryanto/JIBI/SOLOPOS)

Angin kencang yang menerja DIY, Kamis (10/1/2013). (Desi Suryanto/JIBI/SOLOPOS)
JOGJA--Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY melansir, badai tropis jenis Narelle diperkirakan masih akan melanda daerah ini. Wilayah sepanjang pantai selatan DIY dinyatakan paling rawan terkena badai tropis selama periode Januari-Februari mendatang.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG DIY Tony Agus Wijaya, Jumat (11/1/2013) menyatakan, wilayah sepanjang pantai DIY mulai dari Kulonprogo hingga Gunungkidul terpantau paling rawan terkena badai atau angin kencang sebab paling berdekatan dengan Samudera Hindia yang dilintasi badai.

Lantaran itu pula, kerusakan paling banyak terjadi di wilayah selatan saat imbas badai Narelle yang terjadi di selatan Nusa Tenggara tepatnya di Australia mengenai wilayah DIY, Kamis (10/1) lalu. “Yang paling berdekatan dengan Samudera Hindia tentunya paling rawan terkena efek badai,” terang Tony.

Pantauan BMKG Jumat kemarin, badai Narelle dari selatan Nusa Tenggara terlihat bergerak menuju pantai barat Australia dan melintasi laut selatan Jawa. Akibatnya memicu gelombang tinggi di laut selatan mencapai hingga enam meter.
Ketinggian gelombang saat badai ini melintas menurut Tony mencapai puncaknya.

“Kemungkinan badai ini akan tiba di pantai barat Australia Sabtu (12/1)-Minggu (13/1) nanti. Indonesia terlepas dari efeknya, Australia yang akan terkena badai,” lanjutnya.

Namun bukan berarti selama Januari-Februari ini DIY masih aman dari ancaman siklon tropis. Selama musim ini kala matahari masih berada di selatan bumi, badai serupa Narelle diperkirakan masih mengancam dengan kekuatan angin maksimal mencapai 65 kilometer perjam saat di laut dan mengecil saat sampai di daratan antara 10-40 kilometer per jam.

Saat mencapai 40 kilometer per jam angin dinyatakan berbahaya dan dapat memicu kerusakan hebat. Karakteristisk badai tropis jenis Narelle relatif menyebar di seluruh wilayah tak seperti angin Puting Beliung yang terfokus di sejumlah titik.

“Biasanya saat periode Janauri-Februari badai yang datang bisa dua kali. Jenisnya sama, cuma namanya berbeda bukan Narelle. Penamaan badai itu ditentukan dari Australia sana, ada cara penamaanya dilihat dari badai itu berawal dari area mana,” katanya.

Karenanya hingga Februari mendatang, aktivitas pelayaran masih belum aman sampai matahari berada di utara pada periode sekitar Maret. BMKG juga mengingatkan, Januari merupakan puncak musim hujan selama setahun ini dengan curah hujan mencapai 450 mm/bulan. “Yang perlu diwaspadai masalah banjir karena Januari puncak paling tinggi musim hujan,” imbuhnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom