SOLOPOS.COM - Sejumlah mantan pejabat negara seperti Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Jusuf Kalla menghadiri Gala Dinner G20 di Bali. (Bisnis/Wibi P. Pratama)

Solopos.com, BANGKOK – Panitia gala dinner KTT G20 tidak menggunakan jasa pawang hujan seperti saat ajang balap motor MotoGp di Mandalika, Lombok, beberapa waktu lalu.

Panitia menggunakan penerapan rekayasa cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Promosi Jalur Mudik Pantura Jawa Makin Adem Berkat Trembesi

Penegasan itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu pemimpin redaksi media nasional di Hotel Apurva Kempinski, Bali pada Kamis (17/11/2022) lalu.

“Kita menggunakan BMKG dan kita menyiapkan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca),” kata Presiden Jokowi.

Ekspedisi Mudik 2024

Baca Juga: Sejumlah Tamu KTT G20 Kunjungi Nusa Penida via Pelabuhan Sanur Baru

Presiden mengakui pelaksanaan G20 di Bali saat musim hujan menjadi tantangan tersendiri, apalagi setelah mendapat informasi bahwa diperkirakan akan hujan.

“Saya sudah putuskan gala dinner di GWK, disiapkan lighting-nya dengan baik, dan prakiraan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) pada hari itu akan hujan,” tambah Presiden.

Beberapa pemimpin redaksi menduga panitia G20 menggunakan jasa pawang hujan.

Baca Juga: SMRC: Suara Golkar Meroket jika Mengusung Ganjar Pranowo

“Enggak, kita ini ilmiah sekali. Setiap ada gumpalan awan yang menimbulkan potensi hujan langsung disergap tim TMC,” tutur Presiden menceritakan proses rekayasa cuaca.

Presiden juga menceritakan bagaimana dirinya dikabarkan adanya hujan yang terjadi sebelum acara jamuan makan malam.

“Sore sampai malam, saya dikabari bahwa pesawatnya masih terbang. Jadi tiga hari jelang gala dinner urusan cuaca menjadi fokus panitia,” ungkap Presiden.

Baca Juga: Video Xi Jinping Marahi PM Kanada di KTT G20 Bali Beredar Luas

Saat malam pelaksanaan gala dinner, memang cuaca sangat bersahabat, udara sejuk dan tidak hujan. Para kepala negara pun sangat menikmati sajian makan malam dan menyaksikan pagelaran seni.

Dihubungi terpisah, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa TMC merupakan kolaborasi BMKG, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan TNI AU dengan didukung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

“Biasanya garamnya 1,6 ton yang ditabur dengan 2 kali sorti (penerbangan), kemarin 15 November 2022, kita menggunakan garamnya 11,2 ton dengan 11 kali sorti (penerbangan),” kata Dwikorita.

Baca Juga: Kakak Besar, Panggilan Akrab Presiden Jokowi untuk Presiden China Xi Jinping

Dwikorita juga menyampaikan bahwa tim TMC mulai bekerja sejak 10 November 2022 pagi hingga 16 November 2022 pukul 16.00 WITA dengan menggunakan total 29 ton garam yang ditabur melalui 28 sorti penerbangan.

“Tujuannya, awan segera dihalau, segera diturunkan sebagai hujan sebelum memasuki area perhelatan, dan yang terjadi kemarin awan yang sudah terlanjur menutup merata di atas area perhelatan segera diturunkan sebagai hujan beberapa jam sebelum acara dimulai. Kita menggunakan empat pesawat terbang,” tambah Dwikorita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya