Mukini mengamati retakan di lantai rumah Daliyem, warga Dusun Sangiran, RT 012, Desa Krikilan, Kalijembe, Sragen, Kamis (14/3/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sudah lebih dari dua tahun lamanya warga Dusun Sangiran RT 012, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen, dihantui rasa waswas akan datangnya longsor saat musim penghujan tiba.

Potensi longsor itu ditandai munculnya retakan tanah sepanjang sekitar 500 meter hingga merusak bangunan tujuh rumah warga setempat. Retakan tanah muncul di lantai dan dinding rumah warga.

Retakan itu bertambah seiring datangnya musim penghujan kali ini. “Kerusakan paling parah terjadi di rumah Bu Daliyem, Pak Ari Sukisto, dan Atmo Wainah. Sementara Mbah Satiyo Narsi memilih pindah tempat tinggal karena rumahnya sudah rusak parah,” jelas Mukini, warga setempat saat ditemui Solopos.com di lokasi, Kamis (14/3/2019).

Sebelumnya, rumah Mukini juga retak-retak cukup parah. Ia lalu membangun rumahnya dengan memperkuat fondasi. Namun, dinding rumahnya mulai retak-retak seiring datangnya musim penghujan kali ini.

Di rumah Daliyem, retakan tanah nyaris membelah lantai rumah menjadi dua bagian. Retakan tanah selebar 10-20 cm itu muncul di ruang tengah. Supaya tidak membahayakan dirinya dan keluarganya, Daliyem terpaksa menyumbat retakan tanah itu dengan pakaian bekas.

Ia lalu menutup retakan tanah itu dengan kardus bekas dan tikar. “Tanah di bagian emperan juga sudah ambles. Tapi, kami tidak tahu harus bagaimana. Rumah kami sudah berkali-kali disurvei petugas, namun sampai sekarang juga tidak ada solusi kami harus bagaimana,” ucapnya.

Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung sudah meninjau retakan tanah di Dusun Sangiran pada 2017 lalu. Akan tetapi, hingga kini belum ada langkah konkret untuk menanggulangi potensi tanah longsor di kawasan itu.

“Sebagai solusi sementara, warga diminta membendung aliran air hujan supaya tidak terkonsentrasi di tanah yang rawan longsor. Karena ini problem dengan skala besar, kami selalu minta arahan dari BPBD Sragen dan Dinas PUPR. Kalau mau dibangun talut butuh dana besar. Kalau mau direlokasi, rasa-rasanya kok belum memungkinkan. Belum ada gambaran warga harus dipindah ke mana. Relokasi tentu juga butuh besar,” jelas Kades Krikilan, Widodo.

Widodo menjelaskan kontur tanah di wilayah Kalijambe, terutama Desa Krikilan, Bukuran, dan Ngebung memang labil. Tanah di tiga desa itu mudah bergerak saat musim penghujan. Hal itu berakibat munculnya retakan di bangunan rumah dan jalanan berlapis beton.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten