Purwoko, 55, warga Desa Mojokerto, RT 013/RW 005, Kedawung, Sragen, merawat anak sapi berkepala dua di kandang miliknya, Jumat (26/4/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Seekor sapi jenis limosin milik Purwoko, 55, warga Desa Mojokerto, RT 013/RW 005, Kecamatan Kedawung, Sragen, melahirkan anak berkepala dua.

Anak sapi itu lahir pada Rabu (24/4/2019) secara sungsang dengan bantuan mantri kesehatan hewan. Beberapa jam sebelum melahirkan, air ketuban induk sapi itu sempat keluar pada Rabu siang.

Setelah ditunggu hingga beberapa jam, anak sapi itu belum juga terlahir. Pada Rabu petang, Purwoko meminta bantuan mantri hewan. Hasil pemeriksaan mantri hewan menunjukkan anak sapi dalam kandungan induk itu tidak normal.

“Oleh mantri hewan, proses persalinannya dipacu. Kebetulan posisinya sungsang. Normalnya, yang pertama keluar adalah kepalanya. Kalau ini, yang keluar lebih dulu adalah dua kaki belakangnya. Anak sapi itu bisa keluar dari rahim induknya setelah dibantu dengan tarikan,” ujar Purwoko saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Jumat (26/4/2019).

Purwoko kaget melihat bentuk fisik anak sapi yang baru lahir tersebut karena berbeda dibanding sapi pada umumnya. Anak sapi betina itu memiliki satu leher dengan dua kepala yang berdempetan.

Anak sapi itu memiliki dua moncong mulut, dua telinga, dan empat mata. Dua mata di bagian tengah jaraknya berdekatan.

“Lubang mata di bagian tengah memang ada satu. Tapi kalau diperhatikan lebih saksama, ada dua mata di satu lubang itu,” papar Purwoko.

Meski sudah berusia tiga hari, anak sapi berkepala dua itu belum bisa berdiri. Purwoko menduga anak sapi itu belum kuat untuk mengangkat kepalanya yang bercabang dua.

Karena belum bisa berdiri, anak sapi tersebut juga belum bisa menyusu ke induknya. Oleh karena itu, Purwoko membantu membantu dengan meminumkan susu yang diperah dari induknya ke anak sapi itu.

Dengan memakai botol dot bayi manusia, Purwoko memberi minum susu kepada anak sapi itu. “Sesuai saran mantri hewan, susu sapi itu harus diberikan setiap satu jam,” ucap Purwoko.

Purwoko merasa punya kewajiban merawat anak sapi itu hingga besar. Meski dilahirkan dalam kondisi tidak normal, Purwoko menganggap hal itu sudah menjadi bagian dari rencana Allah.

“Biar bagaimana pun, anak sapi itu adalah rezeki dari Allah yang diberikan kepada saya. Saya harus berusaha menjaganya tetap bertahan hidup dengan cara memberinya minum susu. Saya berharap tenaganya bisa segera pulih sehingga dia bisa berdiri dan makan makanan layaknya sapi pada umumnya supaya bisa tumbuh besar,” ucap Purwoko.

Purwoko menjelaskan ini adalah anak sapi ketujuh yang lahir dari induk yang sama. Sebelumnya, induknya tersebut melahirkan enam anak dengan proses normal.

“Proses persalinan anak keempat dan kelima memang dibantu mantri hewan. Tapi, enam anak sapi sebelumnya dilahirkan secara normal,” papar Purwoko.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten