Tutup Iklan -->
Anak Indigo Tasha Siahaan Panik Rasakan Serangan Jepang ke Lawang Sewu
Potret Tasha Siahaan yang diunggah di Instagram pribadinya. (Instagram—tashasiahaan)

Solopos.com, SEMARANG — Gedung bersejarah Lawang Sewu kental menyimpan mister. Anak indigo Natasha atau Tasha Siahaan yang diajak sutradara film horor Billy Christian menelusuri bangunan cagar budaya itu bahkan merasakan kepanikan saat Jepang menyerang.

Billy, sutradara film Petak Umpet Minako, tak hanya mengajak Natasha Siahaan tetapi juga Frislly Herlind. Dua gadis indigo yang terkenal mempunyai kemampuan spesial itu seakan diajak memutar waktu saat Lawang Sewu masih beroperasi.

Dalam unggahan di channel Youtube Billy Christian berjudul ‘Mereka’ Masih di Lawang Sewu: IndigoTalk Travel Semarang part 1, Tasha—panggilan akrab Natasha Siahaan—bersama kru menuju gedung yang menghadap ke Kali Merah.

Gubenur Jateng Medhot Janji Bareng Tukul Arwana

Salah seorang pemandu wisata Lawang Sewu mengungkapkan bahwa dulu terdapat sebuah sungai yang dinamai Kali Merah. Konon katanya sungai tersebut digunakan untuk membuang mayat.

Pada 1 Maret 1942, pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa dan tidak mendapat perlawanan berarti dari pasukan Belanda. Pasukan negeri kincir angin tersebut resmi menyerahkan kekuasaan atas Hindia Belanda kepada Jepang.

"Aduh, sesek banget enggak sih?" tanya Tasha ke kameramen dengan napas ngos-ngosan. Walaupun di tempat yang terbuka, ia merasakan sesak seperti sedang berdesak-desakan.

Guru Besar Desak Mendikbud Atasi Unnes

Tasha Siahaan melihat banyak sekali orang Belanda yang berlarian untuk menyelamatkan diri dari tentara Jepang yang datang saat itu.

Awal kemerdekaan Indonesia tidak membuat Lawang Sewu jatuh ke tangan Indonesia. Landmark Kota Semarang ini menjadi medan pertempuran antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan tentara Kempetai dan Kidobutai.

"Rasanya aku ikutan panik. Ini yang aku rasain pas Jepang datang, terus semua ditembak sampai lantai atas," ungkap Tasha dengan sorot wajah panik. Ia memaparkan jika orang-orang Belanda tersebut mencari tempat untuk bersembunyi.

Pertempuran Lima Hari

Suasana yang dijelaskan Tasha sangat mengerikan untuk sekadar dibayangkan. Ia mengatakan suasana di sekitar lorong menjadi ricuh dan panik karena orang-orang Belanda mendapat kabar bahwa Jepang menyerang.

"Jepang datang dari depan sana, terus nembak kayak brutal gitu, asal aja," katanya seperti yang terpantau Semarangpos.com, Senin (24/2/2020).

Jalani Isolasi Virus Corona, 1 Pasien Meninggal di RS Kariadi Semarang

Tasha Siahaan juga mengatakan jika lantai yang ia pijak saat itu menyerap darah bekas kekejaman Jepang. Ia pun akhirnya memutuskan pindah karena tidak kuat menahan sesak.

Lawang Sewu merupakan saksi pertumpahan darah pemuda dan tentara Jepang, alasan mengapa dibangun sebuah monumen bernama Tugu Muda. Pertempuran tersebut dinamai Pertempuran Lima Hari di Semarang dari tanggal 14 Oktober sampai 19 Oktober 1945.

Para pemuda yang meninggalpun dimakamkan di halaman Lawang Sewu, namun pada tahun 1975 lima jenazah pemuda ini dipindahkan di makam pahlawan. Penguasaan Jepang atas bangunan Lawang Sewu berlangsung dari tahun 1942-1945 sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). (Dhina Cantya/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho