Rumah warga Desa Ngalas, Klaten Selatan, yang ditemukan meninggal dunia. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Johan Okiyanto, 29, mengaku menyesal telah membunuh ayahnya, Girno, 55, di rumah mereka di Ngalas, Klaten Selatan, pada Senin (2/12/2019).

Dia mengakui hari itu dia terlibat cekcok dengan ayahnya. Dia kesal karena sering dinasihati dan dimarahi. Setelah cekcok dan sempat memukul sang ayah, dia tak mengetahui ayahnya meninggal dunia.

"Saya sering dimarahi. Saya disuruh cari kerja terus. Sehari-hari saya bekerja sebagai tukang serabutan. Kalau marah-marah [Girno] memang sering membuang pasir di depan saya. Saya pun tak tahu maksudnya apa," kata dia kepada wartawan di Mapolres Klaten, Senin (9/12/2019).

Dirut Garuda Indonesia Tersangkut Penyelundupan, Sandiaga Uno: Jangan Bully Dia!

Kini, Johan yang sudah ditahan polisi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia dijerat Pasal 5 huruf a jo Pasal 44 ayat (3) UU No. 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Kasatreskrim Polres Klaten, AKP Andryansyah Rithas Hasibuan, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Wiyono Eko Prasetyo, mengatakan pembunuhan Girno oleh anaknya, Johan, terjadi secara spontan alias tanpa perencanaan.

Sebelum tersangkut kasus pembunuhan itu, Johan pernah dipenjara karena kasus pembakaran los tembakau di Klaten.

Nyalon Bupati Klaten, Begini Kiprah Dosen Unwidha Nanik Herawati

"Dia seorang residivis. Pas ditangkap itu kebetulan dia sedang berada di rumahnya," katanya.

Sebagaimana diberitakan, mayat Girno yang sudah dikerubungi lalat ditemukan warga di rumahnya di Kemadohan, Ngalas, Klaten Selatan, Kamis (5/12/2019) lalu. Saat itu warga heran melihat kondisi rumah Girno yang selalu sepi selama beberapa hari terakhir.

Mereka juga penasaran karena mencium bau busuk dari arah rumah tersebut. Para tetangga kemudian mendatangi rumah Girno dan saat melongok lewat jendela mereka melihat Girno tergeletak di tempat tidur.

Hilang dari Day Care, Bocah Balita Ditemukan Tak Bernyawa Tanpa Kepala

Salah seorang sahabat mendiang Girno, yakni Sukamta Putra Waluya, 48, mengatakan Girno merupakan pribadi pendiam.

"Setahu saya mendiang Pak Girno memang sering padu [cekcok] dengan anaknya itu. Mereka tinggal bersama di Ngalas. Istri Pak Girno sudah meninggal dunia," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten