Nur Hasanah dari AMURT Indonesia, penerbit Buku Caping Kita dan Semua Punya Rumah. (Antara- Achmad Zaenal M.)

Solopos.com, SEMARANG — Yayasan berjaringan internasional Ananda Marga Universal Relief Team (AMURT) Indonesia dalam waktu dekat meluncurkan buku-buku yang mengajak anak usia dini untuk berpikir out of the box.

Dipublikasikan Kantor Berita Antara di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (11/10/2019), puluhan judul buku dengan sasaran anak usia pendidikan anak usia dini (PAUD) itu dikemas sebagai miniseri. Beragam tema yang melekat dengan kehidupan sehari-hari ditawarkan AMURT dalam buku-buku bernarasi singkat dan ilustrasi sederhana namun mudah dipahami anak usia dini.

Dari puluhan judul buku tersebut, setidaknya ada dua buku yang memikat dalam penyajian narasi karena membuat ending dengan mengenalkan anak cara melihat atau memahami di luar kebiasaan. Pada buku Caping Kita, misalnya, hingga halaman keenam, pembaca disuguhi penggunaan penutup kepala oleh berbagai profesi, mulai dari petani hingga tukang becak.

Ini merupakan pemadangan biasa bahwa caping dipakai sebagai penutup kepala. Yang bikin unik, pada halaman terakhir, Nur Hasanah, penulis buku Caping Kita, mampu memberi kejutan bahwa caping juga bisa digunakan seperti akuarium atau ember.

Dengan posisi terbalik, caping—tentu di dalamnya sudah dilapisi lembaran kedap air—bisa digunakan untuk menampung ikan dan air. Ilustrasi dan narasi tersebut membawa anak untuk berimajinasi bahwa dalam kondisi tertentu, sebuah benda bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang sama sekali berbeda dari yang biasanya digunakan.

Begitu pula pada buku Semua Punya Rumah. Dengan didukung ilustrasi yang mudah dicerna, Nur Hasanah lagi-lagi mampu memberi kejutan imajinatif pada anak bahwa yang namanya rumah tidak selalu sesuatu yang statis atau menetap. Sebuah rumah beserta penghuninya bisa pula mobile, bergerak dan dapat dibawa ke mana-mana seperti siput atau keong.

Nur, mantan guru PAUD yang kini berkarya di AMURT Indonesia, menceritakan butuh waktu beberapa hari untuk menciptakan narasi yang sebenarnya hanya beberapa kata dalam setiap lembar dan ditulis secara berulang itu. Bahkan, untuk menyusunnya perlu rapat koordinasi segala.  “Ini adalah pengalaman pertama saya menulis buku, rasanya tidak percaya saya bisa melakukannya," ungkap Nur Hasanah ketika ditemui di Kantor AMURT Indonesia di Semarang, Kamis (10/10).

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten