Alsintan Pemberian Presiden Hilang, Petani Boyolali Lapor Polisi
Pemanenan padi dengan combine harvester di Ngawi, Rabu (24/2/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Ari Bowo Sucipto)

Solopos.com, BOYOLALI-- Sejumlah petani di Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, melaporkan kasus hilangnya alat mesin pertanian (alsintan) kepada Polisi, Rabu (5/8/2020). Alsintan yang hilang berupa mesin pemotong padi bantuan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu perwakilan petani Tanjungsari, Suroso, mengatakan pada Rabu siang dia dan dua rekannya, Sulistiyo dan Heri K. telah mendatangi Polres Boyolali untuk melaporkan hal tersebut.

"Tadi sudah ditemui Kasatreskrim langsung. Kami sudah sampaikan persoalan yang terjadi berkaitan mesin combine bantuan dari pemerintah itu," kata dia kepada Solopos.com, Rabu.

Sowan Megawati, Gibran Semakin Mantab Hadapi Pilkada Solo

Disampaikan, pada 2016 lalu petani di Tanjungsari, Banyudono, Boyolali, mendapat bantuan berupa mesin combine senilai sekira Rp400 juta yang kemudian dikelola gabungan kelompok tani (gapoktan) setempat.

Mesin tersebut hilang bermula ketika disewakan oleh sejumlah orang dalam kepengurusan gapoktan Banyudono, Boyolali, kepada seseorang di Sragen pada awal Januari 2019. Namun hingga saat ini alat tersebut tidak kunjung kembali.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam rapat antara pengurus gapoktan, kelompok tani, dan perangkat pemerintah desa, serta sejumlah perwakilan petani, pada 2 Mei 2020, alat pertanian itu disewakan oleh empat orang pengurus gapoktan.

Jokowi Akhirnya Teken Inpres untuk Tindak Pelanggar Protokol Kesehatan

 

Tidak Beres

Perwakilan petani lainnya, Heri K., menyebutkan sebelum disewakan kepada orang Sragen, alat pertanian itu juga pernah dikerja samakan kepada operator di Klaten, mulai 2017 hingga 2018. Namun dari kerja sama tersebut tercium ketidakberesan dalam hal keuangan.

Dikatakan dalam kerja sama itu pihak operator telah mengirimkan uang dengan cara transfer ke dua rekening berbeda. Transfer pertama dilakukan ke rekening gapoktan Desa Tanjungsari senilai Rp43.500.000. Laporan keuangannya telah dibuat dan dipertanggungjawabkan oleh pengurus gapoktan. Namun ada transfer lain ke rekening BNI milik Kelompok Tani Sari Tani II senilai Rp17.500.000.

"Menurut informasi dari pihak operator, diminta secara paksa dan mengancam akan membawa petani Desa Tanjungsari untuk melakukan demo pada operator combine bila tidak ditransfer. Itu menurut informasi dari pihak operator," kata dia. Sedangkan uang hasil tranfer ke rekening kedua tersebut tidak pernah dipertanggungjawabkan dan dilporkan kepada gapoktan dan kelompok tani terkait di Boyolali.

Wow! Rayakan HUT ke-75 RI, Warga Colomadu Karanganyar Lukis Jalan Sepanjang 600 Meter

Menurut petani Tanjungsari lainnya, Sulistiyo, setelah kerja sama dengan operator di Klaten selesai, kemudian alat kembali disewakan ke orang Sragen dengan harga yang menurutnya sangat murah. Alat itu disewakan senilai Rp40 juta. Nilai tersebut juga ditentukan tanpa musyawarah dengan pengurus serta anggota petani lainnya.

 

Proses hukum

Untuk itu para petani di Tanjungsari meminta agar pihak kepolisian mengusut dan menindaklanjuti laporan tersebut. Selain itu petani meminta agar mesin yang disewakan bisa kembali dalam kondisi baik dan dapat digunakan dengan baik.

"Jika tidak dikembalikan dalam kondisi baik, kami minta agar bisa diproses secara hukum. Sebab alat itu adalah bantuan pemerintah, deberikan oleh Presiden, yang semestinya bisa dipertanggungjawabkan," kata dia.

Wali Kota Salatiga Gagas Gerakan Sehari Tanpa Nasi, Ini Tujuannya…

Kasatreskrim Polres Boyolali, Iptu Ahmad Masdar Tohari, mewakili Kapolres Boyolali, AKBP Rachmad Nur Hidayat, membenarkan sudah menerima laporan tersebut. "Benar [ada laporan]. Untuk kasus penggelapannya dulu sudah P21. Kemudian yang baru dilaporkan pengurus yang menyewakan alat tersebut, tapi mau kami gelarkan dulu," kata dia, Rabu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom