Alat Uji PCR Masih Jauh
Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO--Yos namanya. Dia berdomisili di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Masuk rumah sakit pada Minggu (27/12/2020) karena keluhan sakit lambung disertai demam ringan. Hasil pemeriksaan rapid test antibody pada hari itu menunjukkan reaktif atau terdeteksi ada antibodi terhadap Covid-19.

Dua hari setelah itu Yos dites lagi. Kali ini pakai metode rapid test antigen. Dia dinyatakan positif atau terkonfirmasi Covid-19. Pemeriksaan berlanjut ke uji reaksi berantai polimerase atau polymerase chain reaction (PCR) test pada 31 Desember 2020.

Setelah dua pekan dirawat di rumah sakit dan tidak ada lagi keluhan Yos memutuskan mengisolasi diri di rumah. Setelah mengingat hasil tes PCR belum juga keluar, keluarga memutuskan menempuh tes antigen pada Rabu (13/1/2021). Hasilnya negatif. Yos boleh pulang. Dua hari kemudian hasil tes PCR keluar. Positif.

Hasil tersebut kemudian diberitahukan kepada manajemen rumah sakit, disertai dengan hasil tes antigen. Berarti pasien sudah sembuh. Demikian jawaban manajemen rumah sakit.  Lain lagi cerita Martina. Dia masuk rumah sakit pada Jumat (1/1/2021).

Keluhannya sesak napas. Hari itu juga Martina menjalani tes PCR. Keesokan harinya Martina menjalani tes antigen. Dia dinyatakan positif. Lebih dari sepekan Martina dirawat di rumah sakit. Ketika tak ada keluhan lagi Martina memutuskan melanjutkan isolasi mandiri di rumah sembari menunggu hasil tes PCR.

Sebelum keluar rumah sakit, Martina menjalani tes antigen lagi. Hasilnya negatif. Saat ini Martina sudah sehat. Tak ada gejala klinis yang dirasakan. Hingga tulisan ini terbit, Martina belum menerima hasil pemeriksaan tes PCR.

***

Sampai Rabu (3/2/2021), menurut data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, kasus positif Covid-19 di NTT telah mencapai 5.482 orang. Peningkatannya signifikan, padahal pada pekan kedua November 2020 jumlah kasus positif hanya 830 orang.

Kenaikan drastis itu menurut Kepala Dinas Kesehatan NTT, Messe Ataupah, terjadi pada periode Desember 2020-Januari 2021. Naik empat hingga lima kali lipat. Situasi ini tak pelak membuat pemerintah setempat keteteran.

Dengan beberapa cerita di awal terkait lambannya pemeriksaan tes PCR, bisa jadi angka yang ada saat ini bukan angka riil. Kemungkinan jumlah pasien yang terpapar Covid-19 jauh lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setiap hari.

Persoalan hasil uji swab test PCR yang lamban ini menjadi masalah besar di NTT. Saat ini hanya terdapat dua laboratorium di Kupang, yakni Laboratorium Biokesmas dan Laboratorium RSUD W.Z. Johannes.

Dua laboratorium ini harus melayani semua sampel yang masuk dari berbagai penjuru NTT. Menurut Messe, kemampuan maksimal laboratorium itu hanya 300-an sampel. Sampel yang masuk bisa mencapai 800-an setiap hari.

Kondisi menjadi kian tidak terkendali karena jumlah kasus dari hari ke hari terus meningkat. Penumpukan sampel tak bisa dihindari lagi. Tak mengherankan, hasilnya juga tak kunjung keluar. Hingga sebulan lebih lamanya.

Pengujian sampel bisa lebih lama jika berasal dari luar daerah yang berbeda pulau dengan lokasi laboratorium. Tentu butuh waktu yang lebih lama dalam proses pengujian sampel karena waktu tempuh sampel yang cukup panjang. Sebagai perbandingan, hasil tes PCR di beberapa kota besar kini hanya memakan waktu 1-3 hari.

“Di Kupang ada yang sebulan lebih. Rata-rata sekitar tiga pekan. Sudah selesai masa infeksius, hasilnya baru keluar. Ini yang sering terjadi,” ujar Messe, Kamis (4/2).

Pemerintah setempat kini tengah berjuang mempercepat pengadaan alat PCR baru di NTT. Jika tak ada aral melintang, menurut rencana, pada awal Maret 2021 nanti akan ada tambahan satu hingga dua alat tes PCR baru untuk mempercepat proses pengujian sampel dari berbagai daerah di NTT.

Pada saat yang sama, muncul masalah lain lagi. Banyak kasus kematian yang terjadi. Terhadap kasus tersebut, pasien dengan gejala klinis akan dinyatakan mati dalam keadaan Covid-19. Hasil tes PCR akan menentukan pasien tersebut positif atau negatif Covid-19.

Tak kunjung keluarnya hasil tes tersebut jelas menjadi masalah tersendiri di masyarakat. Keributan sering kali terjadi karena tak paham prosedur. Persoalan lain, banyak yang tak paham protokol kesehatan, termasuk prosedur isolasi mandiri sembari menunggu hasil tes PCR keluar.

Di Maumere, karena alasan tak tahu prosedur, suspect Covid-19 melakukan aktivitas dengan bebas. Parahnya, hasil tes yang keluar menyatakan dirinya positif Covid-19, padahal selama masa penantian itu—yang terbilang cukup lama—dia telah berinteraksi dengan begitu banyak orang.

Di Bajawa, Kabupaten Ngada, banyak yang harus menunggu hasil pemeriksaan PCR hingga sebulan lebih. Selama itu pula mereka harus bertahan di fasilitas karantina, padahal kapasitas fasilitas tersebut terbatas, sementara jumlah kasus di wilayah itu naik terus.

Minimnya fasilitas kesehatan rujukan Covid-19 juga menjadi masalah besar di NTT. Di Kupang, ibu kota Provinsi NTT, hanya ada dua rumah sakit rujukan, yakni RSUD W.Z Johannes dan RS Siloam. Kapasitas tempat tidur pun terbatas.

Setali tiga uang dengan di daerah lainnya, bahkan kondisi di daerah kabupaten jauh lebih parah. Kekurangan oksigen juga menjadi masalah tersendiri. Akibat kenaikan kasus positif covid-19 yang sangat tajam, permintaan oksigen melonjak drastis sementara pasokan yang tersedia tak cukup.

NTT hanya satu dari sedikit daerah di luar Pulau Jawa yang kini mengalami kenaikan kasus secara drastis. Masih ada beberapa provinsi lain yang juga mencatat peningkatan kasus dalam jumlah yang cukup signifikan.

***

Situasi sulit seperti ini membuat upaya penanganan Covid-19 di NTT seperti jauh panggang dari api. Pengadaan alat tes PCR dan laboratorium yang memadai kini menjadi sesuatu yang mendesak di NTT jika ingin upaya penanganan Covid-19 di daerah tersebut berhasil.

Tanpa itu, kerja keras untuk memutus mata rantai persebaran virus corona di provinsi tersebut sia-sia. Jangan sampai masih ada cerita-cerita seperti Yos dan Martini dalam pekan-pekan yang akan datang.

Jika cerita itu masih ada, maka rintihan kini yang terdengar dari NTT adalah, ”Sekarang sumber air su [sudah] dekat, tetapi alat uji PCR masih jauuuhhh…”



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom