Aksi Hari Tani Dibubarkan Polisi, Solo Raya Bergerak Beri Klarifikasi
Sejumlah orang yang ditangkap polisi dari kerumunan massa di kawasan SPBU Manahan Solo dibawa ke Mapolresta, Kamis (24/9/2020). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)

Solopos.com, SOLO -- Aliansi Solo Raya Bergerak memberikan klarifikasi terkait aksi memperingati Hari Tani Nasional yang dibubarkan paksa dan sebagian pesertanya ditangkap polisi, Kamis (24/9/2020) lalu.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Solopos.com, Minggu (27/9/2020), Solo Raya Bergerak menilai aksi aparat saat melakukan pembubaran sangat represif. Akibatnya, sejumlah peserta aksi mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Korlap Aksi Solo Raya Bergerak, Edho Johan Pratama, dalam keterangan tertulis tersebut, mengaku menyayangkan sikap arogan aparat kepolisian tersebut.

Klaster Keluarga Terus Bermunculan, Positif Covid-19 Solo Tambah 37 Kasus

Polisi membubarkan dan menangkap sejumlah peserta aksi itu sebelum mulai. "Kami baru berkumpul untuk menunggu peserta lain dan mobil komando. Tapi sudah dibubarkan dan sebagian ditangkap," ujarnya yang hari itu menjalani pemeriksaan di Polresta Solo.

Menurutnya, tudingan aparat kepolisian yang menyebut aksi tersebut tidak ada izin tidak lah benar. Sebab, ia mengaku sudah melayangkan surat pemberitahuan itu kepada polisi sejak Rabu (23/9/2020).

Surat Pemberitahun

Saat menyampaikan surat pemberitahuan itu, lanjutnya, tidak ada penjelasan dari polisi apakah aksi dari Solo Raya Bergerak itu boleh atau tidak.

Karena itu, mereka menyimpulkan aksi tersebut sudah sesuai prosedur. Berdasar pengalaman sebelumnya saat melakukan aksi serupa juga demikian dan tidak ada persoalan.

"Kami melakukan aksi tidak hanya kali ini. Sebelumnya kami juga melakukan hal serupa, dengan menyampaikan surat pemberitahuan dan tidak ada persoalan. Makanya kami juga bingung kenapa bisa dibilang tidak berizin. Kalau memang tidak ada izin mestinya ada surat pemberitahuan dong," jelasnya.

Terkait temuan senjata tajam dan alat pukul pada peserta aksi yang tertangkap, Korlap Aksi Solo Raya Bergerak itu, juga memastikan tidak ada rencana membuat kerusuhan. Titik tekan aksi tersebut menurutnya adalah menyampaikan pendapat.

Tak Datangkan Tokoh Politik, Ini Jurkam dan Metode Kampanye Paslon Bajo Pada Pilkada Solo

"Kita tidak paham kenapa barang [senjata dan alat pukul] itu ada. Karena sejak awal, rencana aksi yang kami lakukan hanya melakukan long march dan mimbar bebas depan kantor DPRD Solo," jelasnya.

Sebenarnya, jelas Edho, cutter itu ditemukan di jok motor milik salah satu peserta yang terparkir. Sehingga, Edho menegaskan tudingan aksi akan melakukan kerusuhan apalagi disusupi kelompok anarkis tidak benar dan hanya fitnah dari aparat yang tidak ada dasar atau bukti.

Protokol Kesehatan

"Memang kemarin ada kelompok anarko yang mau gabung dalam aksi. Tapi langsung kami tolak. Karena kami tidak menginginkan aksi unjuk rasa yang seharusnya damai ternodai kerusuhan," ungkapnya.

War-wer Malam Minggu Pakai Knalpot Brong, 34 Motor Disita Polisi Karanganyar

Meski kondisi saat ini masih pandemi Covid-19, dalam setingan aksi tersebut, Edho sudah mengupayakan untuk menerapkan protokol kesehatan. Mulai pakai masker dan jaga jarak setiap peserta.

"Jadi kalau dianggap melakukan kerumunan massa dan tidak sesuai protokol kesehatan, sekali lagi itu hanya tudingan tidak berdasar dan tidak ada bukti. Apalagi ini belum mulai sudah dibubarkan polisi," tandasnya.

Puluhan Sukarelawan Karangpandan Karanganyar Jalani Tes TB-Paru dan HIV

Aksi Solo Raya Bergerak untuk memperingati Hari Tani Nasional itu, menurut Edho, diikuti sekitar 150 orang. Mereka dari organisasi mahasiswa dan aliansi pelajar.

Tuntutan aksinya antara lain menolak omnibus law, laksanakan reforma agraria, sahkan RUU PKS, tolak militerisme, tolak aparat TNI/Polri menduduki jabatan sipil dan lainnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom