AJI Tantang Tudingan Kasus Buku Merah Hoaks
Laman Indonesialeaks (indonesialeaks.id)

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah pihak ramai-ramai meragukan dan membantah liputan investigatif IndonesiaLeaks tentang dugaan perusakan barang bukti kasus suap impor pengusaha Basuki Hariman, bahkan ada yang menyebutnya sebagai hoaks. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pun mempertanyakan dasar tudingan yang menyebut hasil liputan itu sebagai hoaks.

AJI merupakan salah satu lembaga inisiator Indonesialeaks bersama Tempo Institute dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN). Liputan tim Indonesialeaks yang diberitakan lima media, yaitu Tempo, KBR, Independen.id, Jaring, dan Suara.com, itu menyebutkan buku merah tersebut dikoyak dan dibubuhkan tipp-ex oleh dua penyidik KPK, yaitu Ronald Rolandy dan Harun.

Buku itu, sebut IndonesiaLeaks, diduga dirusak saat disimpan di ruang Labuksi, lantai 9 gedung Merah Putih KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat petang, 7 April 2017. Kedua penyidik tersebut membantah informasi itu, begitu pula Mabes Polri.

"Kalau menyebut informasi itu hoaks, informasi itu pasti tidak ada basis data sama sekali. Kalau ada orang yang berpendapat seperti itu, yang ingin kami tanyakan apakah orang itu sudah membaca website Indonesialeaks, dan apakah dia sudah membaca media yang menerbitkan liputan IndonesiaLeaks?" tanya Ketua AJI, Abdul Manan, di Jakarta, Minggu (14/10/2018), yang dirilis melalui video di channel Youtube Aliansi Jurnalis Independen.

Menurut Manan, tudingan hasil liputan Indonesialeaks sebagai hoaks adalah tidak berdasar. Sebab, kata dia, laporan investigatif itu berdasarkan data yang sangat jelas dan telah diverifikasi sebelum ditindaklanjuti ke tahap peliputan.

"Awalnya dari buku merah yang berisi catatan keuangan dan berita acara pemeriksaan [BAP], yang begitu diterima Indonesialeaks, kita memverifikasi semua informasi, pertama kita verifikasi asal dokumennya, lalu kita verifikasi informasinya. Itu menjadi salah satu tindakan dasar sebelum memutuskan ini layak diinvestigasi atau tidak," kata Manan.

Bahkan sebelum menerbitkan hasil liputan tersebut, kata dia, tim telah mengikuti prosedur sesuai kode etik jurnalistik. Tim kemudian mengecek apakah semuanya telah cover bothside, dan mendapatkan konfirmasi dari semua pihak yang disebutkan dalam dokumen buku merah tersebut.

"Misalnya kan di publikasi Indonesialeaks bisa diketahui semua orang dikonfirmasi, orang yang diduga menerima aliran, termasuk Pak Tito [Karnavian], juga dikonfirmasi oleh Indonesialeaks, walaupun Pak Tito waktu itu yang menjawab juru bicaranya. Terus 2 penyidik KPK yang diduga merusak barang bukti itu, Roland dan Harun, juga dikonfirmasi meskipun tidak bersedia menjawab cukup panjang, hanya membantah."

Selain itu, Manan menyebutkan tim peliput juga telah meminta konfirmasi kepada saksi-saksi kunci seperti yang disebutkan dalam dokumen BAP, yaitu Basuki Hariman dan Kumala Dewi Sumartono, staf keuangan yang disebut memiliki buku merah itu. Meskipun, kata dia, Kumala menolak memberikan jawaban.

Sementara itu, Mabes Polri membantah kedua mantan penyidik KPK dari Polri, yaitu Roland Ronaldy dan Harun, merobek buku merah itu. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan bahwa dua mantan penyidik KPK itu tidak terbukti merobek beberapa halaman dari buku catatan keuangan milik Kumala.

"Mengenai perusakan barang bukti, setelah dicek tidak terbukti bahwa Roland dan Harun melakukan perobekan," kata Irjen Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/10/2018), dilansir Antara.

Terkait isu sejumlah pejabat negara termasuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang disebut menerima aliran dana dari Basuki Hariman, Kadivhumas Polri Irjen Setyo menegaskan isu tersebut tidak benar. Basuki, kata dia, telah mengakui bahwa dana tersebut digunakannya sendiri namun dengan mencatut nama sejumlah pejabat negara.

"Dia [Basuki] mengakui dia menggunakan dana itu untuk kepentingannya sendiri dengan menyebut nama-nama pejabat," katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom