SOLOPOS.COM - Ilustrasi, waduk kekeringan (google.img)

Madiunpos.com, MADIUN — Tiga waduk di Kabupaten Madiun terpaksa ditutup pada saat musim kemarau ini. Langkah ini untuk menjaga konstruksi waduk supaya tidak rusak.

Tiga waduk yang telah ditutup ini adalah Waduk Saradan, Waduk Notopuro, dan Waduk Dawuhan. Ribuan petani sangat menggantungkan kebutuhan air sawah mereka dari saluran irigasi dari yang bersumber dari waduk ini.

Promosi Jalur Mudik Pantura Jawa Makin Adem Berkat Trembesi

Plt. Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Madiun, Maskur Yatim, mengatakan tiga waduk itu ditutup oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo selaku pengelola. Sebagian waduk ditutup pada akhir Juli dan lainnya pada awal Agustus 2019.

Baca Juga:

6 Kecamatan Di Jateng Kekeringan Ekstrem

Air Waduk Di Jateng Susut 24% Gara-Gara Kemarau

“Untuk saat ini sisa air di tiga waduk sekitar 2 meter sampai 3 meter saja. Dengan sisa air ini, pengelola pun menutup pintu airnya,” jelas dia saat dihubungi Madiunpos.com, Senin (30/9/2019).

Maskur menyampaikan kalau waduk dibiarkan mengering tanpa sisa air yang membasahi konstruksi, dikhawatirkan waduk akan rusak. Sehingga pengelola harus menutup pintu air sebelum waduk benar-benar kering.

Waduk akan kembali dibuka setelah musim hujan tiba dan debit air di dalam waduk meningkat.

Saat air melimpah, Waduk Notopuro berfungsi mengairi areal persawahan di Kecamatan Pilangkenceng, Waduk Saradan mengairi wilayah Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng, dan Waduk Dawuhan mengairi persawahan di Kecamatan Wonoasri dan Kecamatan Balerejo.

“Saat air waduk ditutup seperti sekarang. Para petani ya mengandalkan air dari sumur dalam maupun sumber lain,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya