Ahli ITB Jelaskan Penyebab Gunung Semeru Erupsi

Ahli vulkanologi ITB menjelaskan penyebab Gunung Semeru mengalami erupsi, salah satunya curah hujan tinggi.

 Luncuran awan panas Gunung Semeru terlihat dari desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). (Antara/Ari Bowo Sucipto)

SOLOPOS.COM - Luncuran awan panas Gunung Semeru terlihat dari desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). (Antara/Ari Bowo Sucipto)

Solopos.com, LUMAJANG — Gunung Semeru yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, mengalami erupsi sejak Sabtu (4/12/2021). Sampai hari ini, Rabu (8/12/2021), sekitar pukul 00.01 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih mengalami erupsi.

Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik Gunung Semeru belum stabil. Erupsi susulan pada Rabu dini hari tadi teramatai dengan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara.

PromosiJatuh Bangun Samsung, Dari Toko Mi Berubah Jadi Raksasa Elektronik

Meskipun demikian, status Gunung Semeru berada di level II Waspada. Lantas, apa yang menyebabkan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini mengalami erupsi?

Baca juga: Bertambah, Korban Meninggal 35 Orang Akibat Erupsi Gunung Semeru

Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., mengatakan, erupsi yang terjadi pada Sabtu sore itu terkesan mendadak karena warga tidak merasakan gempa. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya material yang berada di dalam dapur magma.

Selain itu material aliran lahar yang terjadi di Gunung Semeru merupakan akumulasi dari letusan sebelumnya yang menutupi kawah gunung tersebut. “Terkikisnya material abu vulkanik yang berada di tudung gunung tersebut membuat beban yang menutup Semeru hilang sehingga membuat gunung mengalami erupsi,” katanya, Minggu (5/12/2021), seperti dikutip Solopos.com dari situs itb.ac.id.

Baca juga: Dampak Erupsi Semeru, 22 Orang Dilaporkan Masih Hilang

Dia menambahkan letusan bisa terjadi di Gunung Semeru karena disebabkan tiga hal. Pertama karena volume di dapur magmanya sudah penuh, kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma, dan yang ketiga di atas dapur magma.

“Faktor yang ketiga ini sepertinya yang terjadi di Semeru, jadi ketika curah hujannya cukup tinggi, abu vulkanik yang menahan di puncaknya baik dari akumulasi letusan sebelumnya, terkikis oleh air, sehingga gunung api kehilangan beban. Sehingga meskipun isi dapur magmanya sedikit yang bisa dilihat dari aktivitas kegempaan yang sedikit (hanya bisa diditeksi oleh alat namun tidak dirasakan oleh orang yang tinggal di sekitarnya), Semeru tetap bisa erupsi,” jelasnya.

Baca juga: 5 Tempat Angker di Gunung Semeru, Penuh Misteri Lur

Penyebab Gunung Semeru Meletus 

Dosen pada Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) itu mengatakan, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif tipe A. Berdasarkan data dan pengamatan yang dilakukan, Dr. Mirzam berkesimpulan bahwa Gunung Semeru memiliki interval letusan jangka pendeknya 1-2 tahun. Terakhir tercatat pernah juga mengalami letusan di tahun 2020 juga di bulan Desember.

“Letusan kali ini, volume magmanya sebetulnya tidak banyak, tetapi abu vulkaniknya banyak sebab akumulasi dari letusan sebelumnya,” jelasnya.

Baca juga: Misteri Gunung Semeru: Paku Bumi Jawa Ditancapkan Para Dewa

Namun menurutnya Dr. Mirzam, arah letusan gunung Semeru bisa diprediksi yaitu mengarah ke tenggara. Hal ini karena mengacu pada peta Geologi Semeru, bidang tempat lahirnya gunung ini tidak horizontal tetapi miring ke arah selatan.

“Kalau kita mengacu pada letusan 2020, arah abu vulkaniknya itu cenderung ke arah tenggara dan selatan karena anginnya berhembus ke arah tersebut begitu juga dengan aliran laharnya karena semua suangai yang berhulu ke puncak Semeru semua merngalir kea rah selatan dan tenggara,” ujarnya.

Mirzam mengindikasikan abu vulkanik gunung semeru cenderung berat yang ditandai dengan warnanya yang abu-abu pekat. Hal tersebut terlihat dari visual di puncak Gunung Semeru. Sehingga ketika letusan-letusan sebelumnya terjadi, abu vulkaniknya jatuh menumpuk di hanya di sekitar area puncak Gunung Semeru, ini yang menjadi cikal bakal melimpahnya material lahar letusan 2021.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Berita Terkini

Mewabah, 6 Kasus Cacar Monyet Ditemukan di Inggris

Sampai saat ini ditemukan enam kasus cacar monyet (monkeypox) di Inggris.

Solopos Hari Ini: Menkeu Minta Tambah Rp275 T

Pemerintah menyodorkan dua pilihan sebagai respons terhadap tingginya harga minyak dunia. Pilihan itu yakni menambah anggaran Rp275 triliun untuk subsidi dan kompensasi energi 2022 atau harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik naik.

Sejarah Tugu Lilin, Dibangun di Solo setelah Gagal di Beberapa Kota

Sebelum dibangun di Solo, Tugu Lilin gagal dibangun di beberapa kota seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang.

10 Berita Terpopuler: Kecelakaan Truk di Jl. Solo-Semarang Boyolali

Ulasan tentang kecelakaan lalu lintas di Jl. Solo-Semarang tepatnya Karanggondang, Penggung, Boyolali, Kamis (19/5/2022) pukul 14.15 WIB menjadi berita terpopuler di Solopos.com Jumat (20/5/2022).

20 Mei Hari Kebangkitan Nasional, Mengapa Tidak Tanggal Merah?

Berdasarkan Kepres No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur, Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) bukan tanggal merah atau hari libur nasional

Selamat Harkitnas! Begini Sejarah 20 Mei Jadi Hari Kebangkitan Nasional

20 Mei sebenarnya merupakan hari lahirnya sebuah organisasai bernama Boedi Oetomo atau Budi Utomo pada 20 Mei 1908 atau 37 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Media Jangan Telan Mentah-Mentah Hasil Survei

Pengamat politik Rocky Gerung mengkritik media yang menelan mentah-mentah hasil survei termasuk tingkat kepuasan terhadap Presiden Jokowi.

Sejarah Hari Ini: 20 Mei 1908 Berdirinya Budi Utomo Sebagai Harkitnas

Beragam peristiwa bersejarah di berbagai belahan dunia terjadi dari tahun ke tahun pada 20 Mei.

2 Survei Kepuasan Jokowi Jauh Beda, Rocky: Surveyor Sedang Cari Remah

Rocky Gerung menyoroti dua hasil survei terhadap tingkat kepuasan Presiden Jokowi yang saling bertolak belakang padahal dirilis hampir bersamaan.

Kenaikan TDL Pelanggan 3.000 VA Berpotensi Tambah Beban Industri

Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik abagi pelanggan 3.000 volt ampere (VA) disesalkan pelaku industri yang tengah berjuang untuk bangkit setelah dihajar pandemi Covid-19.

Kompolnas: Briptu Tajir HSB Lakukan Kejahatan Korporasi

Albertus Wahyurudhanto mengatakan kasus penambangan emas ilegal, baju bekas, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat oknum Polri Briptu HSB merupakan kejahatan korporasi.

Akun Medsos Pejabat Singapura Diserbu Pendukung UAS

Hal itu merupakan buntut dari deportasi yang dilakukan Singapura terhadap UAS pada Senin (16/5/2022) lalu.

Fahri Hamzah: Pejabat Singapura Idap Islamphobia

Fahri Hamzah menilai pejabat Singapura mengidap  islamophobia lantaran menolak Ustaz Abdul Somad (UAS) masuk ke negara tersebut, beberapa hari lalu.

Kejagung Segera Tangkap Semua Tersangka Mafia Minyak Goreng

Febrie menyebutkan tersangka Lin Che Wei sempat membagikan uang hasil kejahatan mafia minyak goreng ke sejumlah pihak.

Dicap Halu, Yusuf Mansur: Saya Sedang Mengajari Bangsa Ini Bermimpi

Yusuf Mansur mengatakan, dirinya sedang mengajari bangsa Indonesia bermimpi agar mencapai taraf kehidupan yang lebih baik.