FOTO AGENDA SEMARANG : Rekor Lontong Cap Go Meh Pecah
Kolaborasi Tari Sufi dengan Romo Alaysius Budi Purnomo di Perayaan Cap Go Meh Semarang. (Youtube.com-M Zainal Mawahib)

Agenda Perayaan Cap Go Meh digelar di Semarang.

Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Facebook.com-Sapek Jmco)
Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Facebook.com-Sapek Jmco)

Solopos.com, SEMARANG — Sebanyak 11.760 porsi lontong sayur ludes di perayaan Cap Go Meh di halaman Balai Kota Semarang, Minggu (19/2/2017) malam. Agenda Semarang itu sekaligus memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri).

Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Youtube.com)
Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Youtube.com)
Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Youtube.com)
Perayaan Cap Go Meh di depan Balai Kota Semarang, Jl. Pemuda No. 148, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jateng, Minggu (19/2/2017). (Youtube.com)

Rekor Muri sebelumnya dicetak pada perayaan Cap Go Meh yang berlangsung di Berau, Kalimantan Timur, dengan jumlah 11.000 porsi, atau selisih 760 porsi dibandingkan dengan perayaan Cap Go Meh di halaman Balai Kota Semarang itu.

Perayaan Cap Go Meh itu semula direncanakan berlangsung di halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, namun akhirnya dipindah ke halaman Balai Kota Semarang karena mendapatkan reaksi penolakan dari sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam.

Perwakilan dari Muri, Sri Widayati selaku eksekutive manager menyerahkan piagam penghargaan dengan nomor 7826/R/MURI/2017 itu kepada Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah Dewi Susilo Budiharjo selaku penyelenggara agenda Kota Semarang itu. Piagam diberikan pula kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan PT Java Prima Abadi, produsen Luwak White Koffie selaku pemrakarsa, dan pendukung sajian lontong Cap Go Meh terbanyak yang berhasil memecahkan rekor Muri tersebut.

Sementara itu, Ketua PSMTI Jateng Dewi Susilo Budiharjo mengatakan sebenarnya bukan rekor Muri itu yang dipentingkan, melainkan bagaimana indahnya gambaran keharmonisan masyarakat dari berbagai suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). "Bukan soal 10.000, 11.000, atau 12.000-nya [orang yang hadir], tetapi kami ingin mewartakan betapa indahnya harmoni yang ada di Semarang ini. Bagaimana kebersamaan dalam kebinekaan dalam keindahan budaya Semarang," pungkasnya.

Sebagai penyelenggara, PSMTI Jateng juga mengundang sejumlah tokoh agama, seperti K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Habib Luthfi bin Yahya, Bhante Dhammasubho Mahathera, Romo Aloysius Budi Purnomo, dan Marga Singgih. Rangkaian kegiatan perayaan Cap Go Meh itu, di antaranya makan lontong Cap Go Meh secara bersama oleh masyarakat yang hadir, kemudian dialog budaya, serta berbagai pertunjukan budaya, seperti tari-tarian dan atraksi barongsai.

Namun, dua tokoh yakni Gus Mus dan Habib Luthfi bin Yahya yang dijadwalkan mengisi dialog budaya yang menjadi rangkaian acara dalam perayaan Cap Go Meh di Balai Kota Semarang itu berhalangan hadir karena kondisi kesehatan mereka. Meski demikian, acara itu tampak dihadiri mantan Gubernur Jateng Ali Mufiz, Ketua Badan Pengelola MAJT Semarang Noor Achmad, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng K.H. Ahmad Darodji.

Meski sempat mendapat reaksi penolakan, masyarakat tetap antusias berdatangan ke Balai Kota Semarang untuk memeriahkan perayaan Cap Go Meh itu, terutama makan lontong secara bersama yang sudah disediakan panitia secara gratis. Seperti diungkapkan, Yanto, 27, warga Boja, Semarang, yang rela datang jauh-jauh ke balai kota untuk mengikuti agenda Kota Semarang itu karena selama ini perayaan budaya semacam itu sangat jarang digelar di Semarang, padahal menarik.

Ini malah saya dengar ada penolakan. Kan sebelumnya mau digelar di halaman MAJT, kemudian dipindah ke sini [balai kota]. Ya, kalau menurut saya tidak perlulah dipersoalkan karena di halaman masjid, bukan di masjidnya," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho