Adil dalam Pikiran dan Perbuatan

Esai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 27 April 2022, ditulis oleh Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

 Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Selamat datang tahun politik. Resminya sih 2024. Akan tetapi dua tahun sebelumnya, suhu politik mulai panas. Ini ditandai dengan makin banyaknya lembaga survei menyajikan hasil sigi kecenderungan warga memilih calon presiden hingga menakar elektabilitasnya.

Lalu tokoh politik makin aktif mendatangi konstituen. Bagi-bagi sembako. Cara lainnya adalah memasang wajah di baliho. Semakin banyak kita temui wajah politikus yang tersenyum manis di pinggir jalan, itu tanda pemilu makin dekat. Saat menjelang Lebaran seperti sekarang, wajahnya nampang dengan tulisan “Selamat Lebaran, Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

PromosiBelum Ada Bintang Terang, Aja Kesusu…

Akan tetapi tahun politik tak cukup diwarnai itu. Manuver politik untuk mengunggulkan kawan dan menjegal lawan makin santer. Salah satunya melalui narasi yang dikembangkan di media sosial. Media sosial beberapa tahun belakangan ini cukup efektif untuk menggalang dukungan dan menyerang kubu lawan.

Sejak pekan lalu, ramai di Twitter cuitan yang menyerang Tsamara Amany yang mundur dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bukan soal mundurnya, tetapi tudingan rasis dari netizen kepadanya. Ada netizen yang mengaitkannya dengan SARA karena dia keturunan Arab. Gara-gara dia mundur dari PSI, dia di-bully.

Baca juga: Ade Armando Laporkan Politikus PAN Eddy Soeparno ke Polisi

Kemudian netizen ramai lagi menggunakan dua istilah yang muncul sejak pemilu presiden (pilpres) sebelumnya, yaitu cebong-kampret atau kadrun-cebong. Mohon maaf, sebenarnya saya tidak suka menggunakan dua kata itu tetapi terpaksa untuk menggambarkan secara jelas fenomena di masyarakat.

Jadi, indikator lain tahun politik sudah dekat adalah makin seringnya istilah-istilah itu dinisbahkan kepada lawan politik. Yang melakukan dua kubu juga. Sebelumnya, yang memilih Jokowi dianggap cebong, yang tak tak suka Jokowi disebut kadrun.

Demokrasi di Indonesia memang masih pada taraf rendah ketika sebagian orang menggunakan nama hewan untuk menyerang kubu lawan. Tak ada penghormatan sama sekali kepada orang yang berbeda pendapat. Tak ada ruang bagi yang memiliki pemikiran dan pilihan politik berbeda.

Seakan orang Indonesia itu terdiri atas dua kubu itu, kalau bukan cebong berarti kadrun. Segregasi atau pemisahan sosial seakan hanya terdiri atas dua kategori itu. Saya sering menyebut segregasi sosial dan politik seperti itu adalah residu Pilpres 2014 dan 2019 yang betul-betul menjerumuskan rakyat ke dalam jurang konflik yang dalam.

Baca juga: Ketua PSI Menilai Pasal Penghinaan Presiden Tidak Dibutuhkan

Padahal preferensi politik masyarakat Indonesia tidak bisa dibagi menjadi dua tadi, cebong dan kadrun. Yang menggunakan identitas keislaman disebut kadrun, lawannya yaitu kelompok nasionalis disebut cebong. Padahal di kubu pendukung banyak yang muslim termasuk Jokowi. Padahal di kubu yang anti-Jokowi banyak kalangan nasionalis juga.

Kalau demikian, kita terjebak seperti pendapat Clifford Geertz soal struktur sosial masyarakat Jawa yang dibagi menjadi tiga, yaitu santri yang kebanyakan berdagang di pasar, abangan yang bekerja sebagai petani, dan priyayi yang memegang jabatan pemerintahan. Pendapat itu sudah banyak dikritik karena masyarakat Jawa tak melulu tiga itu. Banyak juga santri yang duduk di birokrasi. Ada pula pedagang yang tergolong abangan. Warga perkotaan yang abangan juga banyak.

Demikian juga saat Ade Armando dipukuli beberapa demonstrans beberapa waktu lalu. Masyarakat terbelah, ada yang mengecam, ada yang nyukurke. Kesannya adalah yang mengecam penganiayaan Ade Armando itu kelompok cebong, sedangkan yang nyukurke itu kadrun.

Padahal nyatanya tidak demikian. Banyak yang selama ini berada di kubu pengkritik Jokowi mengecam penganiayaan itu. Aksi main hakim sendiri bukan cara yang benar.

Tapi ya bagaimana lagi, segregasi di masyarakat sudah sedemikian parah. Orang memandang sesuatu secara hitam putih. Dalam kasus Zionisme misalnya. Ada anggapan setiap Yahudi pasti pendukung Zionisme yang mengangkangi tanah Palestina. Tidak selalu demikian, Bestie!

Banyak orang Yahudi yang menjadi pengkritik Israel yang menguasai tanah Palestina dan kekerasan terhadap warga di sana. Salah satunya adalah Noam Chomsky. Dia berdarah Yahudi. Ayahnya adalah ahli gramatika bahasa Ibrani. Tetapi Chomsky sering mengkritik politik Amerika Serikat dan Zionisme.

Baca Juga: Mengukur Urgensi Dana APBN untuk Proyek IKN

Melihat hal itu, penting untuk melihat kalimat yang dipakai novelis Pramoedya Ananta Toer bahwa “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Tidak mudah berbuat adil dalam pikiran dan perbuatan. Dalam menghadapi peristiwa politik, kita harus adil melihatnya. Tak terpengaruh oleh ego dan “baju politik”.

Sekarang ini, orang cenderung menyukai informasi atau pendapat yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka sebelumnya. Mereka mengabaikan bukti-bukti baru yang berbeda dengan keyakinannya. Itulah yang disebut bias konfirmasi (confirmation bias). Hal ini terjadi di medsos. Algoritma di medsos mengelompokkan orang berdasarkan hobi, kesukaan, hingga preferensi politik. Akhirnya pendukung “makan bubur diaduk” hanya bergaul dengan orang yang memiliki kesukaan sama. Dia tak mengalami perjumpaan dengan pendukung “makan bubur tak diaduk”. Akhirnya segregasi sosial makin dalam.

Kembali ke persoalan “adil dalam pikiran dan tindakan” serta mengabaikan ego “baju politik” dalam bersikap. Yang dialami Aryeh Neier menarik. Dia lahir pada 22 April 1937 di Berlin, Jerman dari keluarga Yahudi, mengungsi ke AS gara-gara Nazi.

Neier pernah menjadi Direktur Nasional American Civil Liberties Union (ACLU), sebuah organisasi yang memperjuangkan hak sipil pada 1970 hingga 1978. Saat menjadi direktur eksekutif, anggota ACLU menjadi 200.000. Dia mengalami dilema ketika harus mendukung Partai Sosialis Nasional Amerika, sebuah kelompok Neo-Nazi, melakukan aksi berbaris di Skokie, Illinois, AS. Padahal di Skokie terdapat sejumlah besar orang Yahudi dan korban Holocaust. Tetapi sebagai aktivis HAM, dia harus mendukung hak sipil warga termasuk kelompok Neo-Nazi. Alhasil, gara-gara dukungannya, 30.000 anggota ACLU mundur.

Neier tetap mendukung pawai Skokie dengan alasan kelompok minoritas perlu diberi hak berbicara, sementara warga Yahudi tetap terlindungi. Dia bersikap adil dalam pikiran sekaligus tindakan.

Esai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 27 April 2022, ditulis oleh Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

+ PLUS Konsumen dan Aktivis Desak McDonald’s Asia Tinggalkan Kandang Baterai

Koalisi organisasi perlindungan hewan Act for Farmed Animals bersama Open Wing Alliance menyelenggarakan protes massal menuntut McDonald’s Asia menghentikan penggunaan telur ayam dari kandang baterai.

Berita Terkini

Syafii Maarif Mengalahkan Rasa Takut

Kini, Buya Syafii Maarif berpulang pada usia 86 tahun. Seharusnya, 31 Mei 2022 Buya berulang tahun. Kita kehilangan sosok guru bangsa yang menjaga moral bangsa.

Apem, Kolak, dan Ketan

Pura Mangkunegaran bikin gebrakan kecil. Beberapa paket wisata disajikan untuk masyarakat umum. Antara lain paket kuliner khas Pura berupa apem, kolak pisang dan ketan.

Kue Ekonomi Lebaran

Lebaran tahun ini menjadi evidence alias bukti yang nyata. Mudik bukan sekadar perjalanan spiritual menengok kampung leluhur atau sungkem kepada orang tua, melainkan juga menjadi manifestasi geliat ekonomi wisata yang nyata.

Adil dalam Pikiran dan Perbuatan

Sekarang ini, orang cenderung menyukai informasi atau pendapat yang memperkuat keyakinan atau nilai-nilai mereka sebelumnya. Mereka mengabaikan bukti-bukti baru yang berbeda dengan keyakinannya.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Lebaran tahun ini, ada kebahagiaan membuncah. Kerinduan panjang tak bersua bakal terobati.

Mudik, Rohali, dan Rojali

Bayangkan perputaran uang yang tercipta dari sekitar 85 juta orang itu. Tentu tidak sedikit. Apalagi, dua tahun sudah agenda mudik ini tidak dilakukan. maria.benyamin@bisnis.com 

Hukum Cagar Budaya dan Agraria

Bagimana untuk mencegah terjadinya perusakan bangunan, struktur, situs cagar budaya terkait keberadaan masyarakat yang menempatinya? Tentu saja harmonisasi hukum antara UU Cagar Budaya dan UU Agraria perlu dijalankan.          

Surga Kuliner

Keunggulan kuliner Solo bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dan bertumbuh seiring perkembangan kota.

Menjadi Ekalaya

Pandemi telah berlangsung lebih dari dua tahun. Learning loss pun sudah tampak.

Moderasi dalam Keluarga Beda Agama

Untuk mengakhiri perdebatan dan sengkarut pernikahan beda agama ini, seluruh elemen bangsa membangun sinergi, bergandengan tangan, bahu-membahu untuk menegakkan hak dan prinsip kebebasan beragama.

Vandalisme Keraton Kartasura

Selama ini, saya rasa terdapat pemahaman keliru dalam memaknai “ibu kandung” Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Paku Alaman tersebut.

Digital Entrepreneurship: Kewirausahaan di Era Digital

Dari semua aktivitas digitalisasi dalam prinsip digital entrepreneurship perlu dipahami bahwa implementasinya tidak bergantung sepenuhnya pada hal yang berkaitan dengan teknologi atau digital.

Amerika Polah, Ekonomi Dunia Kepradah

Mungkin hari ini dalam konteks geopolitik dan geoekonomi global, analogi itu bisa dipakai. Amerika polah, ekonomi dunia kepradah.

Perangnya Amerika Serikat, Krisis Ganda bagi Dunia

Yang bikin pusing Indonesia, Amerika juga mengancam "boikot" KTT G-20 akhir tahun ini, bila mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin. Begitu kira-kira.

Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Momentum mudik Lebaran 2022 menjadi momentum untuk saling menguatkan saling memulihkan. Tulisan opini ini juga dimuat di rubrik Selasar Koran Solopos

Hilang Tanpa Coretan

Apakah kematian bisa diartikan sebagai ketidakadaan? Bisakah ada dan tidak ada hadir dalam satu waktu?