Adagium Politik dan Olahraga
Agus Kristiyanto/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Esai jurnalis Solopos, Suwarmin, bertajuk Logika Olahraga dan Logika Politik di Solopos edisi Senin (23 Desember 2019) pantas diapresiasi sebagai ajakan kepada publik menapaki tahun 2020 sembari merefleksikan sudut pandang berdasar fakta logika prestasi olahraga serta proses melogika fakta politik dalam tataran lokal maupun tataran global.

Pada akhir 2019 hingga awal 2020 media massa memang disibukkan berbagai fenomena olahraga dan politik. Tahun 2020 banyak event olahraga dan ”event politik”. Logika olahraga sudah sejak lama difokuskan memicu rasa bangga berbangsa. Logika politik untuk memberikan pengharapan melalui penggalangan ekspektasi, aspirasi, dan apresiasi publik.

Olimpiade modern yang dimulai abad ke-19 melahirkan aneka adagium utama, seperti semangat citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), dan fortius (lebih kuat). Sangat sedikit yang memaknai itu sebuah energi pembangkit untuk komparasi atlet/tim secara internal.

Atlet/tim berusaha lebih unggul dari masa lalu, masa yang akan datang lebih unggul dari sekarang. Logika seperti itu penting untuk menekan pencederaan sportivitas karena setiap atlet/tim tidak dibangun dengan pola pikir yang penting lebih unggul dari rival-rival dalam kompetisi.

Semboyan pembangunan olahraga, seperti ”tiada hari tanpa olahraga”, atau ”memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat”, merupakan adagium indah yang sangat dikenal publik di Indonesia sejak 1980-an. Kontribusi terhadap semangat tersebut belum cukup mampu mendorong perilaku individu secara umum, selama logika yang mereka gunakan adalah ”tiap hari sudah ada orang yang berolahraga, walau itu bukan saya”.

Moderat

Mereka juga beranggapan ”sudah banyak yang memasyarakatkan olahraga dan yang mengolahragakan masyarakat, tidak harus masyarakat sini”. Adagium yang tersembunyi dari hiruk-pikuk event olahraga adalah terkait dengan olympic values, seperti friendship (persahabatan), excellence (berkeunggulan), dan respect (rasa hormat).

Olahraga kemudian bermetamorfosis dalam bentuk kontestasi dengan ukuran-ukuran substitusi. Kontestasi dengan kalkulasi ”tak jelas metriknya” biasa digunakan dalam penerapan adagium politik. ”Tidak ada lawan atau kawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”.  ”Hari ini dipeluk sebagai kawan, besuk ditendang sebagai lawan”. Pertimbangan normatif kadang menjadi sesuatu yang ”ditertawakan” ketika berbicara dalam ranah logika politik.

Variabel usia, misalnya, menjadi sesuatu yang ”bisa digoreng” oleh kepentingan-kepentingan politis. Pendukung usia muda getol memengaruhi pihak lain bahwa muda itu energik, lincah, dan visioner. Pendukung yang tua akan menggunakan isu bahwa tua itu ”banyak makan asam garam”.

Faktor usia dalam adagium olahraga tentu lebih bersifat “moderat” karena dalam olahraga dikenal  sport for all. Dari telaah sport sciences, usia menjadi pertimbangan sebagai faktor penentu peak performance masa berprestasi.  Ada puluhan bahkan ratusan variabel lain yang turut menentukan kedigdayaan atlet, salah satunya adalah golden age.

Perjalanan karier atlet lebih bersifat gradual dan progresif. Kedigdayaannya teruji dalam kompetisi berjenjang dari waktu ke waktu. Bertambahnya usia atlet menjadi rekam jejak dalam menambah ”jam terbang” untuk semakin matang dari sisi performa. Sering dijumpai atlet/tim berhasil mengungguli lawan karena unggul kematangan bertanding dan kematangan mental juara. Bagaimana dengan rekam jejak politik?

Sebagian politikus menjadi besar karena karier politik yang cukup panjang, tetapi hal tersebut bukan jaminan berpeluang mengalahkan politikus new comer, yang bukan siapa-siapa di dunia politik. Terdapat orientasi kepentingan politis yang menjadi faktor penentu dukungan kuat. Mungkin faktor popularitas di bidang lain, booming yang menghasilkan empati publik, akumulasi sentimen-sentimen publik yang berkembang. Dukungan dan pilihan politis sangat bergantung pada kalkulasi elektabilitas.

Perbedaan Habitat

Logika olahraga dan politik memiliki perbedaan habitat, namun keduanya sering bersinggungan dalam wadah yang kadang jelas tapi sering tersamar. Terdapat titik singgung yang menjadi pintu masuk interaksi logika olahraga dan logika politik. Pertama, olahraga seksi secara politis karena menjadi media untuk mewujudkan kebersamaan hidup nondiskiminatif.

Kedua, olahraga memiliki nilai-nilai universal dalam tata pergaulan antarbangsa berkriteria global berbasis daya saing, keunggulan, dan kejayaan. Ketiga, daya akomodasi olahraga sangat strategis dalam menggeliatkan akselerasi sektor lain dalam proses pembangunan. Titik singgung adagium olahraga dan politik akan menimbulkan varian sikap kolektif.

Setidaknya ada dua genre hasil persinggungan. Pertama, politik melalui olahraga, yakni menempatkan olahraga sebagai media atau instrumen untuk tujuan-tujuan politik. Keseksian olahraga dijadikan sebagai kendaraan indah berkapasitas besar untuk tujuan politis berspektrum luas.

Politik memang ilmu dan seni meraih kekuasaan. Olahraga bisa ditempatkan sebagai sentral magnetik oleh para “ilmuwan dan seniman” politik. Inilah yang disebut dengan fenomena politisasi dalam olahraga.  Kedua, politik untuk olahraga, yakni usaha menggalang kekuatan warga negara untuk membesarkan nilai kebaikan olahraga untuk khalayak.

Skenario politik digunakan untuk menarik dan mendorong  olahraga menjadi leading sector kejayaan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Sport as means to promote education, health, development, and peace (United Nations Resolution 58/5 paragraph 7th, 2003 ). Terdapat banyak pelajaran penting tatkala aspek logika olahraga dan logika politik disandingkan dalam membaca gambaran besar pertumbuhan kehidupan bangsa. Semoga bangunan politis dan bangunan olahraga menjadi sehat, bugar, kuat, dan lebih sportif, bukan sebaliknya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho