Ilustrasi turok bintol (Twitter)

Solopos.com, SOLO – Sejumlah makanan tempo dulu dipamerkan di Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) 2019. Acara yang digelar di Benteng Vastenburg, Solo, Kamis-Minggu (4-7/4/2019), menyuguhkan berbagai kuliner khas Nusantara.

Pada Jumat (5/4/2019), ada sejumlah menu dapur tempo dulu yang disajikan di SICF 2019. Adapun kuliner khas tersebut adalah mangut, jangan besengek, punten dan turok bintol, sambel cabuk, jangan bobor, jangan lodeh, jangan bening, jangan ndeso dan berbagai jajanan tradisional lainnya.

Sejumlah kuliner tradisional itu memang mulai jarang ditemukan. Apalagi punten dan turok bintol. Tahukah Anda seperti apa makanan bernama punten dan turok bintol itu? Dihimpun dari berbagai sumber, punten merupakan kuliner khas Jawa Timur.

 

Punten, makanan khas Jawa Timur (Pictagram)

Punten terbuat dari nasi yang ditumbuk halus dengan campuran garam serta kelapa. Punten memiliki rasa gurih yang cocok dimakan sebagai pengganjal perut. Punten biasanya dimakan dengan pecel yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa Timur.

Sementara turok bintul adalah makanan khas Jepara, Jawa Tengah, yang terbuat dari campuran ketan dan kacang tolo. Makanan yang bersal dari Desa Pendosawalan, Kalinyamatan, Jepara, itu diolah dengan cara dikukus.

Nama turuk bintol berasal dari kata dalam bahasa Jawa, torok, yang berarti taruh. Sedangkan bintol bermakna bentol. Dinamakan turuk bintol karena ketan yang dimasak ditaruh atau diberi campuran kacang tolo. Sehingga bentuk ketan yang putuh terlihat seperti bentol karena ada kacang tolo di dalamnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten