Ada Potensi Banjir Lahar Hujan, Penambang di Kali Woro Klaten Diminta Waspada
Aktivitas penambangan pasir dan batu di alur Kali Woro sekitar Cekdam 1 Dukuh Karangbutan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Selasa (26/1/2021). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – BPBD mewanti-wanti para penambang manual di alur Kali Woro untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mereka. Pasalnya, potensi banjir lahar hujan bisa kembali mengalir di alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi tersebut.

Sekretaris BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, menjelaskan pada Senin (25/1/2021) sore banjir lahar hujan membawa sisa material vulkanik memberi berkah bagi para penambang. Di sisi lain, masih ada potensi ancaman yang bisa datang sewaktu-waktu.

Meski potensi bahaya erupsi saat ini cenderung ke arah barat atau Magelang, potensi bahaya ke Klaten masih ada. Pun halnya dengan potensi terjadinya banjir lahar hujan. “Lahar hujan bisa datang sewaktu-waktu dan material cukup tinggi,” kata Nur saat ditemui Solopos.com di BPBD Klaten, Rabu (27/1/2021).

Baca Juga: PT KAI Bakal Tambah Lagi Tes Covid-19 Bagi Para Penumpang Jarak Jauh

Selain ancaman lahar hujan yang dimungkinkan bisa kembali terjadi terutama ketika puncak Merapi hujan, potensi bahaya lain yakni kondisi tebing-tebing yang labil. “Berkaca pada beberapa kejadian, pernah terjadi truk terjebak banjir lahar hujan kemudian penambang menjadi korban longsoran tebing karena itu rentan dan rawan longsor,” jelas dia.

Nur mengatakan BPBD dan sukarelawan dari desa-desa berdekatan dengan alur Kali Woro atau lokasi-lokasi pertambangan sudah memperingatkan warga yang beraktivitas sebagai penambang manual tak abai dengan potensi ancaman bahaya. Para penambang manual diminta tetap memantau perkembangan aktivitas Merapi serta cuaca selama mereka menjalankan aktivitas menggali pasir dan batu.

Hal itu bisa dilakukan dengan membawa alat komunikasi seperti handy talky (HT) untuk memantau aktivitas Merapi atau berkomunikasi dengan para sukarelawan yang ada di desa masing-masing.

“Oleh karena itu harus selalu waspada. Ketika turun hujan deras, lebih baik berhenti terlebih dahulu. Karena material yang ada di puncak masih ada dan kubah lava yang saat ini terbentuk bisa diluncurkan kapan saja. Alur Kali Woro berada pada KRB II,” jelas dia.

Jumlah Penambang Bertambah

Banjir lahar hujan pada Senin sore di alur Kali Woro hingga mencapai Cekdam 1 Karangbutan disambut antusias para penambang manual. Aliran yang membawa sisa material vulkanik itu menambah potensi material berupa pasir dan batu yang bisa mereka tambang. Pada Selasa, warga yang merupakan para penambang manual berbondong-bondong mendatangi kawasan Cekdam 1 berjarak sekitar 8 km hingga 9 km dari puncak Merapi.

Kadus II Desa Sidorejo, Yahono, menjelaskan kawasan Cekdam 1 Karangbutan selama ini sudah menjadi lokasi pertambangan manual. Dia mengakui jumlah penambang berlipat setelah ada banjir lahar hujan pada Senin sore. “Sejak Merapi status siaga ya baru kemarin itu ada banjir lahar hujan baru ini terjadi,” jelas dia.

Baca Juga: Polres Boyolali Musnahkan 250 Knalpot Brong Pakai Gerinda

Terkait para penambang manual, Yahono mengatakan para penambang tak hanya warga lokal. Banyak warga dari luar desa yang berdatangan untuk ikut mengais rezeki menambang pasir dan batu di alur Kali Woro. “Dari wilayah Karangbutan sendiri ada sekitar 80 orang yang rutin menambang,” jelas dia.

Dia juga menjelaskan peningkatan aktivitas Merapi tak memengaruhi kegiatan pertambangan manual di Kali Woro. Apalagi, arah potensi bahaya erupsi cenderung ke sisi barat Merapi. “Panduannya tetap dari BPPTKG dengan mematuhi radius bahaya maksimal 5 km,” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom