Salah satu kolam budidaya ikan patin di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Rabu (20/3/2019). (Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Di balik kepopuleran bothok mercon di Desa Tenggak, Sragen, ada cerita sedih terkait warga desa yang frustasi akibat gagal panen berkali-kali.

Pada era 2000-an, hama wereng cokelat mewabah di Soloraya. Petani Sragen saat itu frustasi karena bertahun-tahun mengalami gagal panen. Kondisi tersebut membuat petani rugi besar. Tak mau pasrah dengan keadaan, petani di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, berpikir untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka tidak lagi banyak berharap pada hasil pertanian setelah mengalami kerugian besar akibat wabah wereng.

Lahan pertanian yang semula diberakan selama beberapa tahun, akhirnya dirombak menjadi kolam ikan. “Orang yang memelopori alih fungsi lahan pertanian ke kolam ikan adalah Pak Wardoyo. Saat itu beliau membudidayakan ikan patin. Hasilnya lumayan. Bahkan, usaha ini pada saat itu terbilang lebih menjanjikan daripada bertani. Banyak petani yang mengikuti jejak Pak Wardoyo dengan mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi kolam ikan,” terang Kepala Desa Tenggak, Setyanto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (20/3/2019).

Hingga kini, ratusan warga menjadikan usaha perikanan sebagai pekerjaan sampingan selain bertani. Mereka terbagi dalam empat kelompok tani. Saat ini sudah ada sekitar lima haktare lahan pertanian yang sudah dialihfungsikan sebagai kolam ikan.

Namun, kolam ikan tak hanya dibangun di lahan pertanian, melainkan juga di pekarangan dan halaman rumah warga. Dari hasil perikanan itu muncul menu kuliner khas Desa Tenggak yakni bothok patin atau yang lebih populer dengan nama bothok mercon.

“Bothok patin sudah lama menjadi ikon kuliner di desa ini. Sejak dulu warga terbiasa mencari ikan dengan cara pladu di Bengawan Solo. Hasil tangkapan ikan diolah menjadi bothok. Saat ini ikan patin mudah dijumpai karena banyak dibudidayakan petani. Popularitas bothok patin atau bothok merchon semakin naik. Sekarang hampir semua warung makan di sini selalu menyajikan bothok mercon dengan level pedas berbeda-beda,” ucap Setyanto.

Salah satu warung makan bothok mercon paling terkenal dari desa ini adalah Mbah Wiro. Letaknya di jalan Gabugan-Sragen, tepatnya di sebelah timur Jembatan Gawan yang melintasi Sungai Bengawan Solo. Warung makan ini biasa menjadi jujukan pejabat, mulai bupati hingga gubernur.

“Di Warung Mbah Wiro, paling sedikit bisa menghabiskan 50 kg ikan patin/hari untuk membuat bothok mercon. Kalau sedang ramai bisa mencapai satu kuintal ikan patin/hari bahkan bisa lebih,” terang Setyanto. Bothok mercon sudah menjadi kuliner wajib di setiap kegiatan Pemerintah Desa Tenggak. Selain diolah menjadi bothok mercon, ikan patin bisa diolah menjadi kerupuk, nugget, bakso, steik, dan lain-lain.

Aneka olahan makanan berbahan dasar ikan dari Desa Tenggak kerap dipajang di sejumlah pameran. “Sekarang kami sedang merintis berdirinya BUMDesa supaya aneka olahan makanan berbahan dasar ikan itu bisa mudah dipasarkan. Sekarang warga baru memproduksi bila ada pesanan. Selain ikan patin, belakangan ada kelompok tani yang membudidayakan lele,” ucap Setyanto.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten