Warga mengikuti Parade Ukhuwah melintasi Jl. Slamet Riyadi Solo, Minggu (1/9/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Parade Ukhuwah yang dilanjutkan Tabligh Akbar di Jl Slamet Riyadi, Solo, Minggu (1/9/2019) pagi, diwarnai pembentangan https://soloraya.solopos.com/read/20190901/489/1015769/bendera-tauhid-sepanjang-15-km-dibentangkan-di-solo" target="_blank" rel="noopener">bendera putih bertuliskan kalimat tauhid berukuran 1,5 km. Padahal, kegiatan itu disebut untuk menyambut Tahun baru Hijriah sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia.

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) yang menyelenggarakan kegiatan itu mengklaim bendera tersebut tidak terkait organisasi tertentu. Selain itu, mereka juga membawa bendera merah putih.

“Bendera tauhid tidak identik dengan organisasi tertentu, justru sebagai pemersatu umat Muslim. Kami juga membawa bendera merah putih sebagai bukti kecintaan kepada NKRI,” kata Divisi Advokasi DSKS, Endro Sudarsono, kepada wartawan di sela kegiatan, Minggu.

Pantauan Solopos.com, peserta parade membentangkan https://soloraya.solopos.com/read/20190811/490/1011465/bendera-identik-hti-berkibar-di-masjid-baitul-makmur-solo-baru" target="_blank" rel="noopener">bendera tauhid warna putih sepanjang 1,5 kilometer. Peserta yang menunggang kuda di bagian terdepan barisan yang menempuh jarak 2,5 kilometer itu. Para peserta juga tampak membawa bendera merah putih berbagai ukuran, sementara sebagian lagi mengusung bendera tauhid berdasar warna hitam dan putih.

Parade yang diikuti ribuan orang itu dimulai dari Lapangan Kottabarat melewati Jl. Slamet Riyadi dan berakhir di Simpang Empat Ngarsopuro. Di titik itu, sebuah panggung disiapkan untuk sejumlah pembicara, di antaranya Felix Siauw, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Tengah, Aris Munandar, dan Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Edi Lukito, serta Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Muinudinillah.

Parade Ukhuwah yang dijadwalkan rampung pukul 11.00 WIB, diakhiri pukul 09.30 WIB setelah bernegosiasi dengan petugas pengamanan. Hal itu dikarenakan lokasi acara menggunakan jalan protokol.

Kontroversi Bendera Tauhid

Munculnya bendera yang diklaim sebagai http://news.solopos.com/read/20181026/496/948660/namanya-aksi-bela-tauhid-orasinya-haramkan-pilih-jokowi" target="_blank" rel="noopener">bendera tauhid atau bendera al-liwa (latar belakang putih dengan tulisan hitam) dan ar-raya (latar belakang hitam dengan tulisan putih) kerap menjadi kontroversi. Para penggunanya mengklaim bendera ini adalah panji warisan zaman Rasulullah. Namun sebaliknya, berbagai pihak lain menyebutnya sebagai simbol ideologi tertentu atau organisasi terlarang.

Di Indonesia, kontroversi bendera ini menyeruak saat seseorang membawa bendera tersebut saat saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, Minggu (21/10/2018) lalu. Anggota Bantuan Serba Guna (Banser) NU lantas membakar bendera itu lantaran menilai bendera itu sebagai simbol Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas yang telah dilarang.

Pembakaran itu berujung protes dari berbagai kelompok khususnya yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) -- kelompok pendemo Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebelum Pilkada Jakarta silam --, dan Persaudaraan Alumni 212. Mereka berdemo pada 26 Oktober 2018 dan 2 November 2018 untuk memprotes insiden pembakaran bendera itu.

Tak berselang lama, kasus bendera serupa muncul di Arab Saudi di tempat tinggal Rizieq Shihab. Hal ini berujung pemeriksaan terhadap Rizieq Shihab oleh kepolisian setempat. Kasus ini menunjukkan fakta bahwa Arab Saudi pun menganggap bendera ini sebagai simbol ideologi tertentu. Sebagai catatan, bendera Arab Saudi juga menggunakan kalimat tauhid namun menggunakan latar belakang hijau, bukan hitam atau putih.

Pendapat serupa juga pernah disampaikan putri pertama Presiden Ketiga RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau Alissa Wahid. Dia mengatakan bendera yang dibakar anggota Banser NU di Garut adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Hal itu bisa ditelusuri dari jejak digital kelompok tersebut dalam berbagai aksi.

Walaupun HTI membantah itu bukanhttps://news.solopos.com/read/20181027/496/948762/alissa-wahid-tidak-ada-bendera-tauhid-itu-bendera-hti" target="_blank" rel="noopener"> bendera HTI, namun Alissa mengatakan jika jejak digital di era teknologi saat ini tidak bisa dibantah. “Tidak ada bendera tauhid. Itu bendera HTI. Coba lihat foto setiap aksi HTI. Coba cek di kantor HTI. [meski organisasi terlarang] Kenapa HTI masih ada gerakannya?” katanya di Jogja, Jumat (26/10/2018) lalu.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten