Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menempel stiker “Nek Aku Korupsi Ora Slamet” di mobil dinas Pemprov Jateng, Minggu (8/12/2019). (Bisnis-Istimewa)

Solopos.com, SEMARANG — Pemasangan stiker “Nek Aku Korupsi Ora Slamet” (Jika aku korupsi maka tidak selamat) di mobil-mobil dinas Pemprov Jateng membuat sebagian kepala dinas pemprov setempat waswas.

Bukan hanya kepala dinasnya, pegawai negeri sipil (PNS) yang mungkin ikut menikmati mobil dinas itu pun dibikin deg-degan. Mereka takut terkena tuah kalimat yang tertulis pada stiker tersebut.

Pemasangan stiker “Nek Aku Korupsi Ora Slamet” itu diawali oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat peringatan Hari Antikorupsi Se-dunia, bertepatan dengan car free day Minggu (8/12/2019).

Setelah diperbanyak, Selasa (10/12/2019) pagi, stiker itu kemudian dibagi ke seluruh organisasi perangkat daerah untuk dipasang di seluruh mobil dinas, termasuk di mobil para kepala OPD. Salah satunya di kaca belakang sebelah kiri Nissan Xtrail dengan pelat nomor H 9519 ZZ, mobil dinas yang digunakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Jateng, A.R. Hanung Triyono.

Dengan striker itu, Hanung mengaku semakin percaya diri menindak stafnya yang nakal bahkan tidak akan segan memutus kontrak penyedia jasa.  “Kita blacklist dan putus kontrak jika melakukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi. Kepada karyawan/staf, akan kita pecat jika terbukti melakukan tindak pidana korupsi,” katanya.

Ungkapan “Nek Aku Korupsi Ora Slamet” tersebut dianggap bukan hanya sebagai keberanian statement, tapi juga mendorong keberanian moral untuk tidak korupsi. Bahkan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng, Sujarwanto, mengatakan bukan hanya dirinya yang tidak akan selamat jika korupsi, tapi penambang-penambang ilegal juga tidak akan selamat karena tuah kalimat itu.

“Itu tekad yang total memerangi korupsi. Saya berulang kali omong sama penambang, penambang yang ilegal itu saya doakan tidak selamat. Itu kan korupsi juga. Doa saya hanya satu itu. Ini langkah saya untuk berani memerangi mereka,” katanya.

Namun, selain menjadi pendorong semangat, penempelan stiker itu juga membuat para aparatur sipil negara (ASN) waswas. Kepala Badan Pendapatan Daerah, Tavip Supriyanto mengaku mendengar selentingan-selentingan anak buahnya soal itu.

“Ini kalau ada apa-apa bagaimana ini. Kalau kita kecelakaan dikira ada kejadian [korupsi] bagaimana? Ada beberapa teman yang bilang seperti itu,” kata Tavip.

Tavip menyadari curhatan anak buahnya tersebut. Karena Bapenda selama ini dianggap sebagai lahan basah yang rentan praktek penyimpangan, khususnya di samsat. Dengan adanya penegasan sikap melalui stiker itu Tavip berharap akan membuat dirinya dan anak buahnya semakin berhati-hati.

“Bukan hanya kata-kata di stiker itu, ‘Tetep Mboten Korupsi Mboten Ngapusi’ kita pakai tagline di manapun. Karena kta sangat rentan untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan. Di lapangan kita tidak bisa mengawasi satu persatu karena ada dari kepolisian, Jasa Raharja dan lainnya,” katanya.

Untuk itu pihaknya juga menggandeng kepolisian untuk semakin memperbaiki layanan di Samsat. Bahkan siang ini baru saja dia bersama Kapolres Purworejo meluncurkan modernisasi sistem pengecekan fisik kendaraan di Samsat.

“Tadi Kapolres langsung menekankan, dengan cek fisik seperti ini kita tidak menerima sesuatu dari wajib pajak. Tidak ada pungutan sama sekali di ruang cek fisik. Tidak ada biaya cek fisik. Cek fisik ini modern, begitu mobil masuk sudah terpotret fisiknya,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Bisnis


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten