Mural bernuansa Pemilu Legislatif

Solopos.com, SOLO -- Nasib becak sebagai salah satu moda transportasi di Kota Solo kian memprihatinkan. Para tukang becak mengeluhkan kian sepinya penumpang dan pemerintah belum punya solusi terbaik untuk mereka.

Masalah becak di Kota Solo bukan persoalan sepele karena data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo mencatat pada 2018 lalu ada 4.235 becak yang tersebar di berbagai kelurahan di Kota Bengawan.

Populasi becak terbesar di Kota Solo berada di Kelurahan Nusukan, Banjarsari yaitu 460 becak. Berdasarkan data BPS Kota Solo dalam publikasi data tiap kecamatan diketahui jumlah becak terbesar berada di Banjarsari yaitu 1.869 unit.

Kemudian ada di Jebres sebanyak 1.027 becak. Setelah itu, di Kecamatan Pasar Kliwon ada 602 becak, Serengan terdapat 420 unit becak. Paling sedikit adalah Laweyan dengfan 317 unit becak.

Kisah Mistis Mendaki Gunung Lawu Di Malam 1 Suro

Salah satu tukang becak yang mengeluhkan sepinya penumpang adalah Wiryo, 77. Tukang becak ini biasa mangkal di sekitar Stasiun Purwosari. Sepinya penumpang becak kian terasa setelah perlintasan KA Purwosari ditutup seiring pembangunan flyover.

Wis pasrah [sudah pasrah],” kata dia yang biasa mengantarkan penumpang setelah turun dari bus, Kamis (13/2/2020).

Wiryo menceritakan belum mengangkut satupun penumpang sejak berlakunya rute bus dari arah Wonogiri melalui Jl. Honggowongso Solo. Kini dia mengandalkan kiriman uang dari anak tunggalnya yang bekerja di Surabaya dan mendapatkan sarapan gratis dari salah satu pengusaha kuliner.

Bawa Mobil Hello Kity, Residivis Di Sragen Kejar-Kejaran Tabrak Calya Polisi

”Kiriman sebulan Rp100.000 sampai Rp200.000. Enggak cukup untuk bayar kos,” kata dia yang kini hidup sendiri di Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan Solo.

Hilangnya penumpang juga dirasakan tukang becak lain, Manto, 60, yang mengandalkan penumpang dari bus antarkota dalam provinsi (AKDP) yang menurunkan penumpang di Halte Kerten. Para penumpang mayoritas turun di sejumlah rumah sakit yang tak jauh dari Kerten.

”Kalau ramai bisa dapat Rp50.000 per hari. Tarif dari halte sampai Rumah Sakit Paru [Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta] Rp20.000. Dua hari ini belum ada penumpang,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten