Korban diduga keracunan dirawat di Puskesmas Rawat Inap Baturetno I, Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Senin (28/5/2019). (Istimewa/Suyatno)

Solopos.com, WONOGIRI -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri menduga gejala https://soloraya.solopos.com/read/20190131/495/968942/sekeluarga-wonogiri-keracunan-seusai-makan-jamur-lethong-sapi" title="Sekeluarga Wonogiri Keracunan Seusai Makan Jamur Lethong Sapi">keracunan yang dialami 99 warga Dusun Duwet Kidul, Desa Baturetno, Kecamatan Baturetno, bersumber dari sambal dan lalapan yang dikonsumsi warga saat menghadiri acara kenduren memperingati 40 kematian salah satu warga setempat, Minggu (26/5/2019) malam.

Namun, itu baru sebatas dugaan. Penyebab pastinya baru bisa diketahui jika hasil uji laboratorium sampel makanan dari acara kenduren itu keluar. Dinkes Wonogiri sudah mengirim sejumlah sampel makanan meliputi sambal, lalapan, ayam goreng, dan kremes ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Tengah (Jateng) pada Selasa (28/5/2019) siang.

“Paling cepat hasilnya keluar sepekan kemudian. Sampelnya juga cukup banyak,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Wonogiri, Supriyo Heriyanto, saat dihubungi Solopos.com, Selasa.

Supriyo mengaku sudah menemui pemilik warung yang membikin nasi kotak itu yang menjadi menu di acara kenduren itu di Baturetno. Hasil konfirmasi dari pemilik warung, ia mencurigai penyebab https://soloraya.solopos.com/read/20181120/495/953941/makan-soto-puluhan-siswa-sd-di-wuryantoro-wonogiri-keracunan" title="Makan Soto, Puluhan Siswa SD di Wuryantoro Wonogiri Keracunan">keracunan itu yakni pada proses pengolahan sambal dan lalapan.

Namun, untuk memastikannya, ia menunggu hasil uji lab. Warung makan tempat penyelenggara acara itu memesan menu diketahui belum berizin.

“Kami fokus menangani korbannya dulu. Sampai tadi siang masih banyak yang berdatangan ke Puskesmas. Mudah-mudahan dalam 2 x 24 jam selesai kasusnya. Biasanya begitu pola keracunan terjadi. Mereka bisa pulang, yang penting sudah tidak dehidrasi, tidak diare, dan kondisinya baik,” imbuh Supriyo.

Ia mengimbau para pemilik warung makan, jasa boga, dan katering yang memproduksi makanan secara massal agar mendaftarkan izin ke Dinkes. Dinkes akan membina dan mengawasi operasional warung-warung itu.

“Kalau sudah berizin, Dinkes memantau dan membina sesuai dengan persyaratan untuk katering. Ada Peraturan Menteri Kesehatan untuk pengaturan jasa boga dan katering,” ujar dia.

Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, mengatakan polisi sedang menyelidiki lebih lanjut kasus dugaan https://soloraya.solopos.com/read/20190103/495/962653/korban-keracunan-malam-tahun-baru-di-wonogiri-tambah-14-orang" title="Korban Keracunan Malam Tahun Baru di Wonogiri Tambah 14 Orang">keracunan itu. Upaya-upaya penanganan dilakukan dengan membawa korban ke rumah sakit dan lainnya untuk perawatan intensif. Namun, dari para korban itu ada satu yang meninggal dunia.

Warga Duwet Kidul, Baturetno, menghadiri acara kenduren di salah satu rumah warga pada Minggu malam. Kemudian pada Senin pagi sejumlah warga mendatangi puskesmas dengan gejala mual, muntah, mulas, dan sebagainya.

Pada Selasa dilaporkan jumlah korban keracunan menjadi 24 orang dan satu di antaranya meninggal dunia. Data terbaru pada Rabu, diketahui ada 99 orang yang keracunan. Peristiwa ini dinyatakan sebagai kejadian luar biasa.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten