Kategori: Sukoharjo

87 Kasus Positif Covid-19 Muncul Sepekan Terakhir Di Sukoharjo, Mayoritas Klaster Keluarga


Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sebanyak 87 kasus positif Covid-19 muncul di Sukoharjo selama sepekan terakhir dengan mayoritas berasal dari klaster keluarga.

Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukoharjo mewaspadai lonjakan kasus setelah Lebaran. Jubir Satgas Covid-19 Kabupaten Sukoharjo Yunia Wahdiyati mengatakan selama sepekan terakhir atau bersamaan menjelang dan saat Lebaran ada penambahan 87 kasus positif Corona.

Perinciannya, 65 kasus dengan gejala dan 22 kasus tanpa gejala. Sebanyak 87 kasus positif Corona temuan sepekan terakhir semuanya sudah mendapat penanganan termasuk tracing kontak erat. "Kasus tambahan ini masih didominasi dari klaster keluarga," kata Yunia, Senin (17/5/2021).

Baca Juga: Buntut Tragedi Perahu Terbalik di Kedungombo, Wisata Air di Sukoharjo Ditutup

Ihwal kasus pemudik atau dampak arus Lebaran, Yunia mengatakan baru akan terlihat dua pekan hingga sebulan ke depan. Karena itu, Satgas Covid-19 mewaspadai lonjakan kasus corona dari klaster pemudik atau Lebaran ini.

Berbagai upaya terus dilakukan Satgas Covid-19 untuk mencegah lonjakan kasus setelah Lebaran. Salah satunya dengan menyisir pemudik yang lebih dulu tiba atau curi start sebelum kebijakan larangan mudik diberlakukan pemerintah pusat.

Memantau Pergerakan Pemudik

Satgas Covid-19 masing-masing desa/kelurahan bekerja sama dengan Jogo Tonggo untuk memantau pergerakan pemudik. "Bagi pemudik yang sudah tiba duluan dan belum melakukan swab antigen wajib karantina lima hari. Petugas lalu melakukan tes swab antigen bagi mereka," katanya.

Baca Juga: Banyak Pelanggaran Prokes Di Mal, Satgas Covid-19 Sukoharjo Tegur Pengelola

Lonjakan kasus positif Covid-19 juga diperkirakan terjadi karena meningkatnya aktivitas masyarakat selama Lebaran. Peningkatan aktivitas ini bahkan ditemukan dengan ramainya pusat-pusat perbelanjaan, pasar tradisional hingga objek wisata.

Yunia berharap masyarakat mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Dengan demikian kasus positif Corona bisa lebih ditekan seusai Lebaran.

Selain penambahan kasus positif Corona, merujuk data angka kesembuhan dalam sepekan terakhir meningkat sebanyak 75 kasus.

Baca Juga: Picu Kerumunan, Sejumlah Tempat Wisata Sukoharjo Ditutup

"Perkembangan data masih terus kami pantau mengingat sekarang masih momen Lebaran dan baru saja ada pemudik masuk wilayah Sukoharjo. Kami tunggu hingga arus balik selesai. Masyarakat diminta tetap mematuhi protokol kesehatan," lanjutnya.

Karantina Mandiri

Yunia mengatakan setiap pemudik wajib melaporkan kedatangan mereka ke satgas desa atau kelurahan. Kemudian menunjukkan bukti keterangan hasil tes negatif swab antigen.

Para pemudik ini juga harus melaksanakan karantina mandiri selama lima hari. "Semua harus melalui prosedur yang sudah disiapkan oleh satgas desa," kata Yunia.

Baca Juga: Hari Pertama Buka Setelah Lebaran, Wisata WGM Wonogiri Langsung Ramai Pengunjung

Bagi pemudik yang tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan harus mau menjalani skrining kesehatan dari satgas desa. Menjalani tes swab antigen yang dilakukan petugas kesehatan.

Mereka yang mendapatkan hasil positif disediakan rumah singgah lokasi karantina terpusat di RS UNS Kartasura dan Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Bagi yang hasilnya negatif tetap menjalankan karantina mandiri selama lima hari.

"Pemudik dengan hasil tes positif tetapi kondisinya baik boleh dilakukan isolasi mandiri di rumah yang memungkinkan," jelasnya.

Baca Juga: Geger! Balon Udara Bawa Petasan Meledak di Tengah Kampung Sabrang Delanggu Klaten

Andil Satgas Desa

Menurut Yunia, satgas desa memberikan andil yang cukup dominan dalam proses pengawasan pendatang dalam masa larangan mudik Lebaran tahun ini. Informasi kedatangan pemudik dihimpun dari tingkat RT atau dasa wisma dan RW, diteruskan ke satgas desa.

Dari sini lah, petugas kesehatan puskesmas bergerak melakukan skrining kesehatan. Petugas mendatangi rumah pemudik dan melaksanakan tes swab antigen untuk mereka yang tidak memiliki keterangan rapid tes dari daerah asal. "Tetapi memang sejauh ini belum ditemukan kasus pemudik lolos yang positif," ujarnya.

Baca Juga: 2 Ikon Kuliner Baru Muncul di Jalan Sepanjang 4 Km Wilayah Sragen, Apa Saja?

Yunia Wahdiyati menjelaskan, rata-rata usia kasus positif virus Corona berusia dewasa atau produktif. Berdasarkan kelompok umur tertinggi pada usia dewasa 26-59 tahun sebanyak 3.688 kasus atau 62,4 persen.

Sedangkan pada usia rawan ada 38 kasus pada bayi atau 0,6 persen, 121 kasus balita atau 2 persen, 319 kasus anak-anak atau 5,4 persen, dan 922 kasus lansia atau 15,6 persen.

Share
Dipublikasikan oleh
Suharsih