8 Pompa Banjir di Solo Disiagakan
Lingkungan perumahan yang tergenang air di Kelurahan Karangasem, Laweyan, Solo, Senin (14/1/2019). (Solopos-Ratih Kartika)

Solopos.com, SOLO — Delapan pompa air penanggulangan banjir yang tersebar di Kota Bengawan disiagakan 24 jam menyusul hujan deras yang mengguyur dua pekan terakhir. Delapan pompa banjir yang berlokasi di pintu air di sepanjang Sungai Bengawan Solo itu enam di antaranya berkapasitas 250liter/detik dan dua lainnya berkapasitas 500liter/detik. Lokasi pompa di antaranya berada di Jebres, Pucangsawit, Semanggi, Kali Pepe Hulu di daerah Banyuanyar dan di Kali Pepe Hilir di daerah Sudiroprajan.

Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo, Sihono, menyebut para operator atau petugas pompa air banjir wajib siaga 24 jam dan standby di lokasi yang tidak jauh dari rumah pompa. “Setelah diserahterimakan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSB) akhir tahun lalu, para operator sudah mendapatkan pelatihan operasional, termasuk materi pemeliharaan pintu air, pompa, dan bendung,” kata dia, kepada Solopos.com, Selasa (22/1/2019).

Operasional pompa, jelas Sihono, dapat sewaktu-waktu karena menyesuaikan tinggi muka air Sungai Bengawan Solo. Sebelum air memasuki permukiman warga, early warning system (EWS) yang dipasang di tanggul atau parapet telah berbunyi terlebih dahulu agar warga siap menyelamatkan barangnya. Sirine baru berbunyi setelah memasuki level siaga merah, yang sebelumnya melewati siaga kuning dan hijau.

Koordinator Sukarelawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Sewu, Budi Utomo, mengatakan operasional pompa jamaknya dilakukan saat tinggi muka air (TMA) anak Sungai Bengawan Solo berpotensi menggenangi permukiman. Sementara di saat yang sama, pintu air di titik itu ditutup karena aliran dari Sungai Bengawan Solo dapat kembali mengalir ke permukiman.

“Saat air Sungai Bengawan Solo sudah tinggi dan arusnya berpotensi kembali ke Kali Sonto maka pintu airnya ditutup. Kemudian di saat yang sama, TMA Kali Sonto mencapai 2,5-3 meter, maka pompa akan diaktifkan agar perkampungan di Jagalan tidak terendam,” jelasnya, ditemui Solopos.com, di Rumah Pompa Putat, Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Kamis (24/1/2019)

Budi mengatakan saat ini kondisi Sungai Bengawan Solo relatif aman. TMA rata-rata masih pada level siaga hijau, atau belum pernah sampai siaga merah. Meski di beberapa tempat timbul genangan, ia menyebut hal itu dikarenakan curah hujan tinggi. Sehingga, air mengantri masuk saluran drainase. “Kalau Kali Anyar sampai tinggi kemungkinan karena limpahan air dari Boyolali. Sedangkan volume Sungai Bengawan Solo itu dipengaruhi oleh hujan di Klaten dan Karanganyar,” tuturnya.

Kepala BBWSBS, Charizal Akdian Manu, mengaku sudah melakukan inspeksi di sejumlah pompa dan pintu air, pada pekan lalu. Seluruhnya, kata dia, dalam kondisi baik dan siap menghadapi bencana banjir. Roga, sapaan akrabnya, meminta kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan rutin mengecek daerah sepadan sungai.

“Apabila ada pohon yang potensi longsor, segera sampaikan pada kami. Ini untuk mencegah pohon itu terbawa arus sungai, kemudian tersangkut di tiang jembatan. Hal ini akan memunculkan hambatan sehingga sungai bisa meluap. Tiang jembatan juga bisa tergerus dan putus apabila tidak kuat menahan sampah,” kata dia, melalui sambungan telepon, Kamis.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini masih ada tumpukan sampah terutama batang bambu yang menyangkut di Bendung Tirtonadi. Pembersihan tertunda karena TMA yang masih tinggi. Selain itu, pengurasan juga harus membuang air yang saat ini masih tertahan bendung. 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom