Ilustrasi/Hoovers

Solopos.com, JAKARTA - Berbagai isu dan peristiwa mewarnai pemberitaan di sepanjang 2018. Masyarakat membicarakan isu-isu tersebut di media sosial hingga informasi yang tersebar pun menjadi viral. Tidak hanya terkait dengan agenda gelaran politik dan olahraga saja, tetapi juga berbagai polemik lainnya.

Perusahaan media intelligence Isentia menemukan setidaknya berbagai topik dari delapan industri yang paling banyak dibicarakan masyarakat di media sosial sepanjang 2018 terhitung hingga 10 Desember.

Isu pertama yang cukup menarik perhatian masyarakat adalah pertentangan Susu Kental Manis (SKM) yang menjadi topik terhangat pertengahan tahun. Saat itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan menanggapi isu tersebut dengan mengeluarkan surat edaran terkait penggunaan bijak dan larangan produk kental manis pada anak-anak melalui pom.go.id.

Isentia mencatat 11.956 total buzz di media sosial, pada tanggal 1 Mei - 31 Agustus, dengan puncak tertinggi pada 9 Juli, sebagian besar merupakan pendapat netizen terhadap polemik tersebut.

Selanjutnya, pada bulan Agustus hingga Oktober, pergelaran Asian Games ke-18 dan Asian Para Games ke-3 turut menjadi trending topic di Twitter. Dalam kedua event tersebut, Indonesia berhasil memperoleh 98 medali dan 135 medali, melampaui jumlah yang ditargetkan Kemenpora.

Selama periode ini, Isentia menemukan sebanyak 614.411 buzz online seputar Asian Games – 95 persen di antaranya merupakan percakapan di Twitter, dan 21.124 total buzz seputar Para Games, dengan momentum tertinggi pada 7 Oktober terkait upacara pembukaan Asian Para Games.

Masih di bulan Oktober, Indonesia juga menjadi tuan rumah untuk IMF-AM 2018 di Bali, dengan tema Voyage to Indonesia dan membahas seputar investasi infrastruktur, kesepakatan bilateral, maupun bantuan bencana. Isentia menemukan total 27.573 buzz di media sosial, dengan puncak momentum buzz pada 8 Oktober, terkait anggaran pertemuan tahunan ini.

Gempa bumi dan tsunami yang menimpa Palu dan Donggala pada 28 September lalu turut menjadi perbincangan netizen, sebanyak 64.464 total buzz, dengan momentum tertinggi pada 3 Oktober sehubungan dengan bantuan pasca bencana. Peristiwa ini menewaskan 2.000 orang, 12.500 orang terluka dan 200.000 menjadi pengungsi menurut Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN).

Berselang satu bulan kemudian, pada 29 Oktober, terdapat insiden jatuhnya Lion JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang di perairan sebelah utara Karawang, Jawa Barat. Volume percakapan terbanyak terjadi pada hari kecelakaan (29 Oktober), dari total 129.786 buzz sepanjang 29 Oktober hingga 30 November 2018.

Sementara terkait ekonomi, fluktuasi kurs Rupiah yang melemah hingga Rp 15.240 per dolar AS pada 30 Oktober, diperbincangkan sebanyak 6.689 buzz media sosial, sebagian besar dari perbincangan tersebut bernada negatif.

 Di sisi lain, perkembangan fintech di Indonesia juga memunculkan perbincangan sebanyak 215.688 buzz, dengan brand T-Cash, OVO, GO-Pay sebagai yang paling diperbincangkan sepanjang tahun ini.

Topik sehubungan dengan majunya Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi sebagai pasangan calon kandidat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 juga menjadi salah satu perbincangan tertinggi, yaitu sebanyak 549.021 total buzz, dengan momentum tertinggi pada 4 September terkait permohonan maaf Prabowo atas kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

Insight Manager Isentia Indonesia Rendy Ezra mengatakan bahwa dari berbagai trending topic tersebut, ditemukan bahwa Twitter masih merupakan kanal media sosial paling aktif untuk berdiskusi, menyebarkan berita juga campaign.

Di samping itu, Rendy juga mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak langsung percaya begitu saja dnegan informasi yang dibagikan. Apalagi di tahun 2019 mendatang saat pelaksanaan Pemilihan Presiden 2019.

“Sebaiknya masyarakat Indonesia melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya di media sosial agar tidak terpengaruh hoax yang marak beredar,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Media Sosial Nukman Luthfi mengatakan penyebaran informasi di media sosial masih didominasi oleh empat platform utama yaitu Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter. Informasi yang berasal dari platform tersebut kemudian disebarluaskan melalui pesan Whatsapp.

Menurutnya, pengguna Facebook dan Instagram masih merupakan yang terbanyak. Kalangan usia dewasa biasanya akan fokus ke Facebook sedangkan kalangan muda dan milenial lebih banyak mendapatkan informasi dari Instagram.

Twitter masih menjadi kanal media sosial yang mampu menjadikan sebuah berita menjadi viral meskipun jumlah penggunanya tidak sebanyak Facebook maupun Instagram. Sementara itu, Youtube merupakan platform yang paling banyak diakses karena siapapun dapat membukanya tanpa harus login atau mendaftar.

“Isu yang akan banyak diperbincangkan pada 2019 khususnya terkait Pilpres karena memang telah memasuki tahun politik. Akan banyak informasi-informasi hoaks yang beredar terkait pilpres tersebut,” ujarnya.

Untuk itulah, masyarakat harus lebih cerdas dalam menggunakan media sosial dan menyebarkan informasi yang ada di media sosial tersebut. Pasalnya, saat ini Undang-Undang ITE mulai banyak menjerat penyebar berita hoaks.

“Tapi UU ITE itu harusnya menjerat juga pembuat berita hoaks itu karena orang yang menyebarkan itu kan mereka kadang tidak sadar kalau yang disebarkan itu hoaks. Agar tidak mudah terpengaruh hoaks ya harus terbuka pikirannya,” ujarnya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten