Ilustrasi sawah. (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI – Sebanyak 72 petani terancam tak bisa lagi menanami lahan pasang surut seusai perbaikan sungai Bengawan Solo dimulai. Perbaikan tersebut rencananya dimulai dari Bendungan Waduk Gajah Mungkur (WGM), Wonogiri.

Selain berdampak pada pemanfaatan lahan pasang surut, perbaikan sungai itu juga berdampak pada rumah di dataran banjir. Konsultan dari Nippon Koei, Meiyanto, dalam sosialisasi di Pendapa Rumah Dinas Wonogiri mengatakan, sedimentasi di Sungai Keduang berdampak ke intake bendungan Wonogiri.

Selain sedimentasi, aliran air itu juga membawa sampah yang kerap mengakibatkan saluran intake tertutup. Alhasil, Perum Jasa Tirta harus membersihkan sampah ini dengan alat berat setiap tahunnya.

“Untuk sampah yang sulit diambil juga menggunakan tenaga manusia untuk menyelam memungut sampah dan sedimentasi,” kata dia, Senin (2/12/2019).

Solusi lain adalah membagi waduk menjadi dua, yakni dari arah Sungai Keduang ke waduk penyimpan sedimen dan waduk utama penyimpan air. Selain itu, perlu juga pembilasan sedimen yang melalui spillway baru. Tetapi, yang jadi kendala saat ini adalah banjir saat debit air yang dilepas melebihi 200 meter kubik per detik.

“Perbaikan sungai ini dirancang agar debit air yang dilepas dari spillway bisa berkapasitas 400 meter kubik per detik dan tidak mengakibatkan banjir di Wonogiri,” imbuh Meiyanto.

Perbaikan sungai itu meliputi pelebaran sungai, pembuatan tanggul untuk melindungi daerah yang lebih rendah, serta memperkuat bantaran sungai untuk melindungi daerah-daerah dari ancaman erosi. Selain itu, pintu air di tanggul untuk mencegah banjir kembali dari Sungai Bengawan Solo ke anak sungai atau back water.

Perbaikan ini dilakukan sepanjang 3,7 kilometer Sungai Bengawan Solo. Meiyanto menjelaskan dampak sosial dari perbaikan sungai ini adalah sebanyak 72 petani tidak bisa lagi memanfaatkan lahan pasang surut untuk bercocok tanam pada musim kering.

Selain itu ada satu rumah berlokasi sekitar 200 meter ke arah hulu dari jembatan Jurang Gempal juga terdampak. Meski demikian, lokasi buangan tanah galian sungai itu kemungkinan bisa dipakai berolahraga dan berekreasi.

“Dampak positifnya adalah pada lokasi buangan tanah galian sungai apabila memungkinkan bisa dipakai untuk tempat olahraga, rekreasi, dan lainnya,” tutur dia.

Salah satu peserta sosialisasi, Tumino, Lurah Giripurwo, menyatakan mendukung perbaikan sungai itu demi kelancaran debit air dari Waduk Gajah Mungkur. Ia dan sejumlah petani lainnya selama ini kerap memanfaatkan lahan pasang surut untuk bercocok tanam. Namun, ia tak mempermasalahkan dampak itu.

“Saya mendukung perbaikan sungai ini. Saya dan beberapa petani lainnya ini memang menggarap di lahan pasang surut ini. Tapi, ini enggak apa-apa,” ujar dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten