70% Lebih Cepat Menular, Ini Kata Lembaga Eijkman soal Virus Supercovid...

Lembaga Eijkman menyebut mutasi terbaru virus corona yang kini memicu penyakit yang dijuluki Supercovid belum mempengaruhi vaksin.

SOLOPOS.COM - Ilustrasi pandemi Corona. (Detik.com)

Solopos.com, JAKARTA — Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menyebut mutasi terbaru virus corona yang kini memicu penyakit yang dijuluki Supercovid belum mempengaruhi pengembangan vaksin. Dengan kata lain, vaksin yang telanjur dibeli dan telah disimpan Indonesia diklaimnya tak akan muspra.

Seperti diketahui mutasi virus corona yang ditemukan di Inggris itu ditengarai kini memiliki kemungkinan 70% lebih cepat menular daripada versi awalnya. Terkait ancaman kumpulan gejala berjudul Supercovid itu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof. Amin Soebandrio menegaskan mutasi mutakhir virus corona itu belum sampai mengganggu pengembangan vaksin.

Meski demikian diakuinya bahwa virus hasil mutasi yang kali pertama ditemukan di Inggris itu kini sudah masuk kawasan Asia. Hal itu, menurutnya ditemukan pada kasus seorang perempuan warga Singapura yang baru pulang dari studi di Inggris awal Desember lalu.

Maling Kembalikan Celana Dalam dengan Bekas Sperma

Amin menjelaskan mutasi virus terjadi setiap kali virus itu bereplikasi atau memperbanyak diri. Mutasi kemudian terjadi secara acak, bisa melemahkan virus sehingga membuat virusnya mati, namun ada juga potensi virus itu justru membuatnya beradaptasi semakin baik.

Mutasi itu, menurutnya terjadi di bagian protein virus, tetapi bukan di receptor binding domain (RBD). Dengan kata lain, mutasi itu tidak terjadi pada bagian yang menempel pada sel manusia.

Struktur Tak Berubah

Mutasi yang terjadi mengubah beberapa poin dari virus pemicu Supercovid, namun Lembaga Eijkman mengklaim selama ini indikasi yang ditemukan belum sampai mengubah struktur maupun sifat antigennya. “Jadi sejauh ini belum mengganggu kinerja vaksin,” tegasnya pada konferensi pers, Kamis (24/11/2020).

Tanaman Hias Kata Fengsui Tentukan Keberuntungan

Selain itu, Profesor Amin juga menjelaskan adanya pengaruh dari faktor geografis terkait dengan mutasi virus tersebut. Mutasi virus di Inggris yang menjadi lebih menular bisa jadi disebabkan oleh suhu lingkungan yang lebih dingin.

Namun, karena saat ini mutasi tersebut sudah ditemukan di Australia, yang saat ini musim panas, dan ada di Singapura yang iklimnya tidak berbeda dengan Indonesia. Masyarakat diimbaunya tetap waspada dan lebih berhati-hati pada paparan virus corona hasil mutasi tersebut.

“Karena nyatanya virus itu tidak mengenal musim. Yang perlu diingat agar masyarakat tidak terus panik atau terlalu khawatir, kehadiran mutasi itu harus diterjemahkan menjadi upaya kita untuk meningkatkan kemampuan untuk deteksi, bagaimana kita merespons, dan cara mencegahnya jangan sampai dia masuk ke Indonesia,” tegasnya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Berita Terbaru

Murah Dan Akurat, Ini Fakta GeNose Alat Deteksi Covid-19 Buatan UGM

Solopos.com, SOLO-- Meningkatnya angka infeksi Covid-19 di Indonesia, membuat proses deteksi Covid-19 menjadi langkah yang penting. Ada beragam alat...

Mengintip Kecanggihan Gelang Pelacak Pasien Covid-19 Buatan LIPI

Solopos.com, SOLO -- Kasus pasien Covid-19 sempat kabur dari rumah sakit atau lokasi karantina terjadi di beberapa daerah. Sampai-sampai...