Ilustrasi HIV/AIDS. (Solopos-Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sebanyak 680 orang di Kabupaten Karanganyar, Jawa Timur terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB)-HIV periode tahun 2000-2018.

Informasi itu dipaparkan pemateri yang juga Kepala Puskesmas Kerjo, Siti Mahfudzah, di acara Sosialisasi HIV/AIDS di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Rabu (12/12/2018).

Sosialisasi dalam rangka Hari AIDS Sedunia tahun 2018 itu digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan lainnya. Kegiatan diikuti 300 siswa SMA/SMK dan mahasiswa.

Siti memaparkan data proporsi penderita HIV/AIDS dari sejumlah indikator. Hal terpenting yang disampaikan adalah semua kecamatan di Kabupaten Karanganyar berisiko terhadap penularan HIV/AIDS. Dari 177 desa di Kabupaten Karanganyar, risiko penularan HIV/AIDS ada di 126 desa.

"Dari tahun 2000 sampai September 2018 total 680 orang atau kasus HIV/AIDS dan TB-HIV. Sebanyak 120 orang di antara meninggal. Estimasi ODHA 1.095 orang tetapi yang melapor dan diperiksa 680 orang," kata Siti.

Perempuan berkerudung itu menyebut kasus HIV/AIDS menyerupai gunung es. Kasus yang terdeteksi bisa jadi lebih sedikit dibandingkan kasus yang tidak dilaporkan. 

Hal mengejutkan lain adalah usia paling banyak menderita HIV/AIDS di Kabupaten Karanganyar adalah 25-49 tahun sebanyak 44%. Disusul usia 20-24 tahun sebanyak 23%, lebih dari 50 tahun sebanyak 19%, dan 15-19 tahun sebanyak 11%.

Proporsi penderita HIV/AIDS paling banyak dialami orang dengan jenis pekerjaan swasta sebanyak 22%. Disusul orang yang bekerja sebagai buruh 20%, ibu rumah tangga 19%, wiraswasta 15%.

Proporsi penderita HIV/AIDS berdasarkan faktor risiko didominasi perilaku heteroseksual 84%, homoseksual 11% dan sisanya perinatal dan IDU's. Proporsi penderita HIV/AIDS berdasarkan klasifikasi HIV sebanyak 48%, AIDS 45%, dan TB-HIV 7%.

"Laki-laki dan perempuan seimbang untuk risiko terjangkit HIV tetapi perempuan lebih banyak terjangkit AIDS. HIV pada laki-laki 162 kasus sedangkan perempuan 165 kasus dan AIDS pada laki-laki 76 kasus sedangkan perempuan 124 kasus," jelas dia.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) DKK Karanganyar, Rita Sari Dewi, menjelaskan sejumlah cara ditempuh Pemkab untuk mengantisipasi penyebaran HIV/AIDS, yakni penyuluhan, voluntary counselling and testing (VCT) mobile, dan lain-lain. Kali ini penyuluhan dan VCT mobile menyasar pelajar.

"Ada sasaran lain seperti pekerja pabrik, komunitas, dan lain-lain. Kami datangi. Siapapun VCT gratis. Sudah disuplai dari pemerintah. Hasil tes bisa diketahui 30 menit. Setelah itu konseling untuk pengobatan selanjutnya. Kalau positif maka ada pemeriksaan ulang untuk memastikan. Apabila positif dilanjutkan dengan terapi," tutur dia.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, secara gamblang menyebut praktik lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT), ada di Karanganyar secara sembunyi-sembunyi. Dia meminta ratusan pelajar yang datang membantu menyosialisasikan kepada teman sebaya tentang bahaya HIV/AIDS.

"Kalian di sekolah harus berani mencegah narkoba dan perilaku menyimpang. LGBT di mana-mana. Karanganyar masih ada praktik tersembunyi. Kalau perlu sekolah bentuk satgas. Awasi perilaku teman. Perilaku seks bebas juga. HIV/AIDS itu tidak ada obatnya. Teriaklah di lingkungan masing-masing," tutur Bupati saat memberikan sambutan. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten