60% Peritel di Solo Masih Ngeyel Berikan Kantong Plastik
Ilustrasi kantong plastik berbayar (JIBI/Solopos/Dok)

Sedikitnya 60% peritel di Solo masih tetap memberikan kantong plastik kepada konsumen.

Solopos.com, SOLO — Sebanyak 60% dari sekitar 80 peritel di Solo belum optimal menjalankan program pengurangan kantong belanja plastik.

Program gerakan “Diet Kantong Plastik” yang diujicobakan kepada peritel Solo mulai Minggu (21/2/2016) lalu itu direspons pengusaha dengan membatasi penggunaan kantong plastik. Beberapa langkahnya dengan mengarahkan konsumen menggunakan kardus bekas, membawa tas belanja sendiri, atau membayar tas kresek Rp200/lembar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Solo, Triyana, mengemukakan berdasarkan pantuan institusinya di lapangan, belum semua peritel yang membuka usaha di Kota Bengawan sudah patuh menjalankan amanat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu.

“Dari pantauan kami di lapangan, program memang sudah jalan tapi belum semuanya melaksanakan. Dari 50 peritel yang ada, baru sekitar 20 yang sudah benar-benar meninggalkan kantong plastik. Yang lain masih pakai seperti biasa,” terangnya saat ditemui di Kantor Kelurahan Laweyan, Jumat (17/6/2016).

Triyana mengakui program uji coba pengurangan kantong plastik bagi peritel tidak bisa diterapkan secara instan. Melainkan membutuhkan waktu lama untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang kadung akrab dengan kantong plastik untuk berbelanja berbagai keperluan. “Hasilnya memang tidak bisa langsung [100%]. Tapi karena ini aturan, peritel harus menerapkan,” tegasnya.

Disinggung soal sanksi bagi peritel ngeyel yang masih nekat menjual kantong plastik bagi konsumen, Triyana mengatakan instruksinya belum ada. “Selama ini sebatas imbauan. Kami harapkan semua ritel yang ada bisa benar-benar menjalankan surat edaran untuk ikut mengurangi sampah plastik. Karena dampaknya besar bagi lingkungan,” katanya.

Sementara itu, program pengurangan sampah plastik yang mulai diarahkan bagi pedagang kaki lima car free day (CFD) Jl. Slamet Riyadi, Minggu (22/5/2016) lalu, juga belum mulai berjalan. Pantauan solopos.com di penyelenggaraan CFD, Minggu (12/6/2016), sebagian besar pedagang masih berjualan menggunakan kantong plastik atau pembungkus lain berbahan plastik untuk melayani pembeli.

Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Solo, Subagiyo, menyatakan pihaknya masih memberlakukan masa sosialisasi selama tiga bulan sejak pencanangan. “Kami berikan waktu sosialisasi dulu selama tiga bulan. Setelah itu baru benar-benar ada ketegasan,” ujarnya secara terpisah.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho