Ilustrasi HIV/AIDS (JIBI/Harian Jogja/Reuters)

Solopos.com, BOYOLALI -- Sebanyak 596 kasus HIV/ AIDS terjadi di Boyolali dalam kurun waktu empat tahun sejak kasus pertama ditemukan pada 2015 silam.

Jumlah penderita HIV/AIDS kini didominasi kalangan ibu rumah tangga (IRT). Bahkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Boyolali pernah menemukan kasus di mana bocah berusia 14 tahun sudah menderita infeksi menular seksual (IMS).

Sekretaris KPA Boyolali, Titiek Sumartini, sejak 2015 puluhan warga di antaranya telah meninggal dunia.Berdasarkan catatan pada 2018 lalu, sedikitnya ada 85 penderita HIV/ADIS meninggal dunia.

Sementara itu di tahun 2018 temuan kasus HIV/AIDS terakumulasi sebanyak 480 kasus. Itu berarti dalam rentang waktu satu tahun ada sedikitnya 116 temuan kasus baru terkait HIV/AIDS di Boyolali.

“Angka ini masih tergolong tinggi,” ujar Titiek ketika berbincang dengan solopos.com di Hotel Azhima, Ngemplak, Boyolali Kamis (28/11/2019).

Titiek menambahkan kasus HIV/ AIDS ditemukan pada 2015 silam saat itu seorang warga Boyolali diketahui membawa HIV/ AIDS setelah pulang dari bekerja di luar negeri. Namun warga yang sempat dikucilkan di lingkungan sekitarnya itu, imbuh Titiek kini telah meninggal dunia.

Dia menambahkan penderita HIV/AIDS atau ODHA di Boyolali 80% berada di rentang usia produktif antara 15-50 tahun. Cara penularannya melalui hubungan seksual beresiko seperti dalam kasus lelaki seks dengan lelaki (LSL) yang jumlahnya diklaim meningkat dan kaum transgender atau waria.

Dua kelompok ini merupakan populasi kunci penyebaran AIDS meskipun jika ditinjau lebih lanjut penularan AIDS paling banyak terjadi pada karyawan swasta dan IRT.

Sementara itu di kalangan pelajar, pencegahan HIV/ AIDS dilakukan dengan sosialisasi kepada sekolah serta pendampingan yang dilakukan guru bimbingan dan konseling (BK).

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kesiswaan SMA Negeri 1 Simo, Diasmoro Supadmo mengatakan terkait HIV/ AIDS pihaknya melakukan sosialisasi rutin kepada siswa terkait bahaya HIV/ AIDS serta upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

“Untuk kerja sama kami biasanya mengundang pemateri dari kepolisian,” ungkap Dias.

Sebelumnya DPRD Boyolali mengusulkan pembahasan Raperda tentang penanggulangan TBC dan HIV/AIDS. Raperda itu disetujui dalam rapat paripurna pertengahan Juli 2019 lalu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten