Ibu-ibu PKK di Desa Ponggok mengemasi makanan ringan, Rabu (8/5/2019), untuk persiapan menghadapi libur Lebaran.(Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Ibu-ibu PKK di Desa Ponggok mulai menyetok makanan ringan untuk pengunjung Umbul Ponggok selama libur Lebaran. Makanan ringan berbahan utama ikan nila itu menjadi buah tangan bagi pengunjung Umbul Ponggok.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, setiap pengunjung di Umbul Ponggok diwajibkan membeli tiket masuk senilai Rp15.000. Dari pembelian tiket masuk itu, setiap pengunjung memperoleh makanan ringan berbahan utama ikan nila. Makanan ringan ini menjadi makanan khas Ponggok. Di antara makanan ringan itu, seperti stik duri nila, pangsit nila, cipir nila, bakso goreng nila, pastel nila, dan cendol duri ikan nila. Setiap kemasan bobotnya 35 gram-50 gram. Ukuran tersebut setara Rp3.000 per kemasan.

“Di luar libur Lebaran, kami biasanya menyiapkan 5.000 kemasan makanan ringan per pekan. Nah, di libur Lebaran mendatang hingga H+7 Lebaran, kami akan menyiapkan 50.000 kemasan. Kami mulai menyiapkan stok makanan ringan itu per hari ini [kemarin]. Tujuannya agar tak terburu-buru saat mendekati libur Lebaran. Tahun lalu, kami siapkan 30.000 kemasan, ternyata kurang banyak. Makanya di tahun ini disiapkan 50.000 kemasan,” kata Ketua PKK Ponggok, Listyaningsih, 42, saat ditemui wartawan di Ponggok, Rabu (8/5/2019).

Makanan ringan berbahan utama ikan nila itu, lanjut Listyaningsih, merupakan makanan olahan ibu-ibu PKK yang tergabung dalam usaha kecil menengah (UKM) Nila Murni Ponggok yang berdiri sejak 2016. UKM Nila Murni Ponggok ini memberdayakan ibu-ibu yang tersebar di RW 001 (produksi stik duri, bakso goreng nila, dan cendol duri ikan nila), RW 002 (pastel ikan nila dan abon), RW 003 (cipir nila), dan RW 004 (pangsit nila).

“Ini bagian dari upaya ibu-ibu PKK di Ponggok untuk memodifikasi ikan nila. Jika dijual secara kiloan, ikan nila hanya Rp28.000 per kilogram. Kalau diolah lagi menjadi makanan ringan, hasilnya lebih menguntungkan. Di awal produksi, kami memperoleh pendapatan Rp100 juta per tahun. Pada 2018, kami sudah bisa memperoleh Rp200 juta,” katanya.

Salah satu anggota PKK di Ponggok, Yuni, 37, mengaku tertarik ambil bagian untuk pengepakan kemasan makanan ringan tersebut. Selain mengisi waktu luang saat Ramadan, pekerjaan itu dapat menambah penghasilan keluarga.

“Hasilnya lumayan. Jam kerja mengepak kemasan pukul 07.00 WIB-13.00 WIB. Uang yang diperoleh dari pekerjaan ini saya gunakan untuk beli beras,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: