Ilustrasi Pendidikan SMP (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, WONOGIRI — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri menyatakan lima hari sekolah bagi SMP belum menjadi program prioritas untuk direalisasikan dalam waktu dekat.

Kepala Disdikbud Wonogiri, Yuli Bangun Nursanti, menyampaikan Dinas masih harus mendorong sekolah agar memenuhi standar teknis pelayanan minimal pendidikan terlebih dahulu.

"Kendati demikian bukan berarti batal diterapkan," ujar dia saat ditemui solopos.com saat berkegiatan di Wisata Waduk Gajah Mungkur, Sendang, Kecamatan Wonogiri, Rabu (8/1/2019).

Sebab, tambah dia, berdasar regulasi lima hari sekolah boleh diterapkan selama standar teknis pelayanan minimal pendidikan dipenuhi terlebih dahulu. Standar teknis itu seperti terpenuhinya jumlah tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana, dan sebagainya.

Sekretaris Disdikbud, Sriyanto, menjelaskan penerapan lima hari sekolah masih rencana. Langkah yang sudah dilaksanakan, seperti polling atau jajak pendapat di semua sekolah, hanya tahap awal.

Dilaksanakannya jajak pendapat bukan berarti program lima hari sekolah bakal langsung diterapkan setelah tahapan tersebut selesai dilaksanakan.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, program tersebut belum menjadi program prioritas dinas untuk diterapkan pada 2020.

“Masih banyak hal yang perlu dikaji secara mendalam. Kalau direalisasikan dalam waktu dekat saya kira belum bisa,” kata Sriyanto.

Dia melanjutkan sekarang ini Disdikbud memprioritaskan kajian ihwal ujian akhir dan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Topik itu menjadi perhatian lebih daripada lima hari sekolah.

Sriyanto menilai lima hari sekolah bisa menjadi program jangka menengah atau panjang.

Ditanya bagaimana latar belakang program tersebut muncul, dia mengatakan lima hari sekolah merupakan ide dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Awalnya MKKS SMP berkoordinasi dengan Disdikbud. Selanjutnya MKKS mengoordinasi polling di sekolah-sekolah.

“Yang jelas jam masuk sekolah masih seperti biasa, enam hari [Senin-Sabtu] dulu,” imbuh Sriyanto.

Seperti diketahui, setelah wacana penerapan lima hari mengemuka akhir Oktober 2019 lalu, Bupati Wonogiri Joko Sutopo merespons negatif.

Dia merasa belum pernah diajak berkoordinasi ihwal lima hari sekolah. Lelaki yang akrab disapa Jekek itu mempertanyakan urgensi penerapan program tersebut.

2 Nyawa Warga Wonogiri Melayang Akibat Leptospirosis

Padahal penerapan enam hari sekolah berjalan lancar tanpa gejolak.

Menurut dia, penerapan lima hari sekolah hanya membuat siswa lebih lama menghabiskan liburan (Sabtu dan Minggu) dengan bermain gawai. Dia khawatir hal itu berdampak buruk terhadap anak-anak.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten