5 Bencana Sepak Bola Dunia Paling Tragis, Tragedi Kanjuruhan Terparah Kedua

Berikut lima bencana paling tragis di dunia, termasuk tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Minggu, 2 Oktober 2022 - 18:29 WIB Editor: Ginanjar Saputra | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Ratusan suporter terjepit dalam tragedi Heysel di Final Liga Champions 1985 di Brussel, Belgia. (The Telegraph)

Solopos.com, SOLO – Sepanjang sejarah sepak bola dunia, ada sejumlah tragedi yang menelan korban jiwa. Banyak faktor yang menyebabkan korban berjatuhan di beberapa pertandingan sepak bola.

Yang terbaru, sepak bola Indonesia tengah berduka atas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (1/10/2022) malam. Tragedi itu menewaskan sedikitnya 130 orang dab sekitar 180 lainnya mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.

Sebelum tragedi di Stadion Kanjuruhan, dunia sepak bola berulang kali berduka karena tragedi yang hampir serupa. Tidak hanya melibatkan klub kecil, tragedi berdarah bahkan tak jarang melibatkan klub besar yang sudah terkenal seantero dunia.

Berikut lima tragedi paling berdarah dalam pertandingan sepak bola di dunia.

1. Tragedi Heysel

Tragedi ini terjadi pada pertandingan final Piala Eropa antara Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Belgia, 29 Mei 1985.

Dikutip dari laman resmi Liverpool, peristiwa itu bermula saat ada kerusuhan di Blok Z Stadion Heysel. Tragedi ini menewaskan 39 orang dan melukai lebih dari 600 orang.

Baca Juga: Dampak Buruk Tragedi Kanjuruhan bagi Sepak Bola Indonesia

Akibat peristiwa naas ini, klub-klub Inggris—termasuk Liverpool—dilarang bermain di kancah internasional selama lima tahun.

2. Tragedi Ellis Park

Pada 11 April 2001, pertandingan antara Kaizer Chiefs dan Orlando Pirates di Stadion Ellis Park, Johannesburg, Afrika Selatan, berubah menjadi tragedi. Sebanyak 43 orang penonton tewas dalam pertandingan tersebut.

Berdasarkan laporan BBC pada 2001 lalu, kekacauan terjadi karena penonton membeludak di stadion hingga saling berebut tempat duduk. Akibatnya, sebanyak 43 orang meninggal dunia karena berdesak-desakan.

3. Tragedi Hillsborough

Liverpool memang klub besar yang kaya akan sejarah, baik sejarah kejayaan maupun sejarah kelam. Setelah terlibat Tragedi Heysel, suporter Liverpool mengalami kejadian tragis dalam Tragedi Hillsborough pada 15 April 1989.

Manajemen Liverpool, melalui laman resminya, menjelaskan tragedi ini menewaskan 97 orang yang terdiri atas anak-anak, wanita, dan pria.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Persebi Boyolali Sampaikan Duka Cita

Tragedi ini terjadi pada partai final Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest di Stadion Hillsborough, kandang milik Sheffield Wednesday.

Tragedi ini terjadi bukan karena kerusuhan, melainkan karena penonton yang berdesak-desakan melebihi kapasitas stadion. Dari keputusan pengadilan pada 2016 lalu, suporter Liverpool dinyatakan tidak bersalah atas tragedi ini.

4. Tragedi Kanjuruhan

Tragedi paling berdarah selanjutnya adalah Tragedi Kanjuruhan. Tragedi yang terjadi pada pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022).

Diberitakan Solopos sebelumnya, suporter Arema FC yang kecewa dengan kekalahan dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 melampiaskan emosi dengan turun ke lapangan mengejar pemain dan ofisial sehingga polisi berupaya menghalau, termasuk menembakkan gas air mata.

Baca Juga: Gas Air Mata, Penyebab Tragedi Stadion Nasional Peru, Kini Kanjuruhan

Penonton yang panik berlari ke pintu keluar sehingga terjadi penumpukan. Akibatnya fatal, banyak penonton yang terinjak-injak, terhimpit, dan sesak nafas. Terbaru, tragedi ini menelan sedikitnya 130 korban jiwa dan 180 korban luka-luka yang harus dirawat di rumah sakit.

5. Tragedi Peru

Tragedi paling berdarah di dunia sepak bola terjadi di Stadion Nasional, Lima, Peru, 24 Mei 1964 silam. Sebanyak 326 orang meninggal dunia dalam laga antara Peru melawan Argentina tersebut.

Kala itu, suporter Peru yang merasa tak adil dengan keputusan wasit menggeruduk lapangan. Polisi kemudian terpaksa menembakkan gas air mata ke arah kerumunan. Kematian dalam tragedi ini kebanyakan dipicu sesak napas dan pendarahan.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif