Ilustrasi Stunting (Whisnupaksa)

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 5.814 balita di Sragen mengalami stunting atau kekurangan gizi kronis. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen terus melakukan pemyaringan data bayi di bawah lima tahun (balita) yang mengalami kekurangan gizi kronis atau stunting sejak muncul hasil riset kesehatan dasar (kesda) 2018 lalu.

Hingga Agustus 2019, DKK berhasil menemukan data primer sebanyak 5.814 balita stunting atau 10,2% dari total balita di Sragen sebanyak 57.001 bayi. Dari jumlah anak balita stunting itu dengan rincian 1.826 anak merupakan balita sangat pendek, dan 3.997 merupakan balita pendek.

Data tersebut terus bergerak sesuai dengan hasil temuan di lapangan oleh tim screening yang dibentuk DKK.

Sekretaris DKK Sragen Fanny Fandani saat ditemui Solopos.com, Senin (14/10/2019), di kantornya menerangkan pemyaringan dilakukan dengan cara terjun langsung ke wilayah kerja puskesmas, yakni di 25 puskesmas yang menyebar di 20 kecamatan. Dia mengatakan dari hasil screening itu ditemukan data primer, yakni data yang dihasilkan dengan melihat langsung kondisi balita berdasarkan umur.

“Sampai hari ini [kemarin] tim terus bergerak, yakni ke Sumberlawang. Nanti data per September setelah divalidasi kemungkinan angkanya bisa di bawah 10,2%. Tim yang turun ke daerah itu mengukur tinggi badan sehingga ditemukan data jumlah balita dengan kriteria sangat pendek dan pendek,” ujarnya.

Gesi Tertinggi

Dia mengatakan bayi yang didata dari usia 0-5 tahun baik laki-laki dan perempuan. Dia menjelaskan tinggi badan balita itu tergantung pada usianya dan ada standar tinggi badan balita berdasarkan umur dan jenis kelamin. Tinggi badan bayi laki-laki dan perempuan berbeda pada kelompok umur yang sama.

Kepala DKK Sragen Hargiyanto saat ditemui wartawan, menyampaikan angka tertinggi jumlah balita stunting ada di Gesi sebanyak 27,94% atau 295 bayi dari 1.056 bayi se Kecamatan Gesi. Tertinggi kedua di wilayah Kecamatan Mondokan, yakni dari 2.610 bayi terdapat 646 balita stunting atau 24,75%.

Kemudian Sukodono dari 2.044 balita terdapat 478 balita stunting atau 23,39%. Bila dilihat dari jumlah balita stunting per kecamatan maka Mondokan tertinggi di Sragen dan disusul Sukodono.

“Hasil riset Kesda 2018 berbeda dengan hasil pendataan riil ke lapangan. Penanganannya nanti lintas OPD [organisasi perangkat daerah]. Khusus untuk DKK menangani langsung dari sisi pengobatan, penyediaan makanan tambahan, memberi vitamin, mineral, dan seterusnya. Kalau OPD di luar DKK bisa melakukan penyehatan sanitasi, membangun akses infrastruktur, penyuluhan ibu hamil, pencegahan perkawinan dini, dan seterusnya,” ujar Hargiyanto.

PIlot Project

Mulai 2020, Hargiyanto akan menanganii stunting dengan menggunakan 10 desa sebagai pilot project. Dia mengatakan penentuan 10 lokus penanganan stunting akan dilakukan dengan merangking 20 desa dengan jumlah balita stunting terbanyak kemudian diambil 10 desa terbanyak. Dia mengatakan bisa jadi dalam satu desa hanya diambil 1-3 desa.

“Yang perlu dipantau itu 1.000 kehidupan pertama, yakni pada usia kehamilan 270 hari dan usia 0-23 bulan sebanyak 730 hari. Sebenarnya dengan menintervensi stunting maka program lainnya ikut jadi sasaran, misalnya penekanan angka kematian ibu dan angka kematian bayi/balita juga ikut tertangani karena sasaran stunting juga para ibu hamil beririko tinggi. Kemudian kasus gizi kurang dan gizi buruk juga jadi sasaran karena stunting itu disebabkan kekurangan gizi kronis. Dan seterusnya,” katanya.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten