Petugas Damkar Klaten memusnahkan sarang tawon di rumah salah satu warga. (Solopos-Dok)

Solopos.com, SOLO -- Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Solo menerima 40 laporan mengenai keberadaan sarang tawon ndas sepanjang awal 2019 ini.

Dari jumlah itu sebanyak 30 laporan sudah ditindaklanjuti dengan eksekusi atau penanganan oleh tim Dinas Pemadam Kebakaran Solo.

Jumlah itu cukup signifikan dibandingkan jumlah penanganan sarang tawon ndas sepanjang 2018 yang mencapai 90 laporan. “Tahun lalu ada 90-an operasi penanganan sarang tawon ndas. Hampir semua kami tangani,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Solo, Gatot Sutanto, Rabu (23/1/2019).

Gatot menjelaskan pada awal dan akhir tahun memang biasanya jumlah aduan masyarakat terkait keberadaan sarang tawon ndas terbilang tinggi. Sedangkan pada pertengahan tahun jumlah aduan relatif sedikit.

“Tren grafik laporan warga memang seperti itu,” kata dia.

Menurut Gatot, 40 laporan yang masuk hampir merata berasal dari lima kecamatan di Kota Bengawan. Sarang-sarang tawon ndas yang dilaporkan warga ada yang berada di tanah pekarangan, di dahan pohon, maupun rumah.

Dinas Pemadam Kebakaran Solo serius menangani laporan keberadaan sarang tawon ndas lantaran racun tawon itu cukup berbahaya. Pada 2017 sempat ada warga Kecamatan Pasar Kliwon yang meninggal dunia tersengat tawon.

Serangan serupa terjadi 2018 lalu. Beruntung korban tidak sampai meninggal dunia akibat disengat tawon ndas. Di sisi lain sangat berisiko membiarkan warga secara mandiri memberangus atau menyingkirkan sarang tawon.

“Bagi yang tidak punya kemampuan kami minta tidak nekat menangani sendiri sarang tawon ndas itu. Hubungi saja kami akan kami terjunkan tim untuk penanganan. Berbahaya bila menangani sendiri tanpa kemampuan,” urai dia.

Menurut Gatot, timnya pun sangat berhati-hati menangani sarang tawon ndas. Seperti dengan memilih waktu malam hari saat operasi, mengenakan seragam pemadam kebakaran, dan menentukan cara paling tepat.

Waktu malam dipilih lantaran saat itu mayoritas tawon sedang berada di dalam sarang. Dengan begitu pemusnahan sarang bisa optimal. Berbeda soal bila operasi dilakukan siang hari di mana tawon sedang keluar sarang.

Selain itu pada siang hari tawon relatif lebih galak. “Hampir 90 persen operasi penanganan sarang kami lakukan malam hari. Saat operasi, tim memakai seragam operasi pemadaman api. Karena itu yang kami punya,” tutur dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten

%d blogger menyukai ini: