4 Tahun Joko Sutopo-Edy Santosa: Jembatan Nusantara, Ikon Baru Wonogiri
Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, menandatangani prasasti saat meresmikan Jembatan Nusantara, jembatan JLK ruas Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Senin (17/2/2020). Jembatan diberi nama Nusantara sebagai simbol pemersatu warga Wonogiri dalam membangun daerah.

Solopos.com, WONOGIRI -- Di masa pemerintahan Bupati Joko Sutopo dan Wakil Bupati Edy Santosa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri tak hanya membangun sumber daya manusia (SDM), tetapi juga infrastruktur.

Selain jalan, Pemkab Wonogiri juga membangun infrastruktur lainnya berupa jembatan, salah satunya Jembatan Nusantara. Jembatan yang berlokasi di Desa Pare, Kecamatan Selogiri ini diresmikan penggunannya oleh Bupati Joko Sutopo, Senin (17/2) pagi.

Peresmian jembatan yang merupakan jembatan Jalan Lingkar Kota (JLK) ini sekaligus sebagai penanda peringatan pemerintahan Joko Sutopo-Edy Santosa yang keempat. Bukan sekadar menjadi infrastruktur penghubung antardaerah, Jembatan Nusantara juga diharapkan menjadi kawasan atau ikon baru Kabupaten Wonogiri.

Pemkab Wonogiri berencana memoles kawasan Jembatan Nusantara itu menjadi tempat wisata baru bagi warga. Rencana tersebut sudah masuk program jangka menengah karena masih membutuhkan kajian lebih dalam.

Kawasan Jembatan Nusantara dinilai potensial dijadikan tempat rekreasi warga. Warga sering memadati area jembatan dan sekitarnya setiap sore. Paling ramai pada Sabtu sore dan Minggu pagi. Kondisi itu menciptakan simpul ekonomi baru. Banyak pedagang mendapat berkah atas fenomena tersebut.

Tak heran, lantaran Jembatan Nusantara dinilai sebagai jembatan terindah di Kota Sukses. Jembatan ini dilengkapi plengkung besi berukuran besar. Di sisi barat jembatan, terlihat sederet pegunungan yang indah pula. Jekek meyakini Jembatan Nusantara akan menjadi ikon baru Wonogiri.

Penataan kawasan Jembatan Nusantara akan menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, bagian bawah jembatan dibangun embung dan dibangun wahana permainan air. Kerja sama dengan sejumlah pihak, seperti Badan Usaha Milik Desa diperlukan agar kawasan tersebut menarik warga.

Pembangunan Jembatan Nusantara sendiri merupakan bagian dari proyek pembangunan JLK segmen III pada 2019 lalu. Proyek segmen III menelan anggaran senilai lebih dari Rp14 miliar. Khusus pembangunan jembatan menghabiskan dana Rp4,6 miliar dengan perincian pengerjaan pipa dan las senilai Rp997,7 juta, pengerjaan unsur tanah Rp592,3 juta, dan pengerjaan struktur Rp3,057 miliar.

JLK yang mulai dibangun pada 2019 sepanjang 5,03 km terdiri atas tiga segmen. Ruasnya dimulai dari dekat Mapolres Wonogiri, Kelurahan Wuryorejo (Kecamatan Wonogiri-Pare-Singodutan (keduanya Kecamatan Selogiri). Kegiatan menelan anggaran lebih kurang Rp56 miliar dari bantuan keuangan provinsi (bankeuprov) dan APBD.

Panjang JLK secara keseluruhan tercatat 15,5 km, yakni dari pertigaan Desa Bulusulur dekat Rumah Makan Pak Eko-Desa Purworejo-Desa Pokoh Kidul-Pencul, Kelurahan Wuryorejo. Lalu disambung dengan ruas dekat Mapolres hingga dekat Terminal Giri Krida Bakti, Krisak, Selogiri. Pembangunan JLK dimulai 2010, yakni dari ruas Bulusulur. (BC)


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho