4 Skenario Anak Krakatau Picu Tsunami Selat Sunda
Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018). Sejak Jumat (7/12/218) hingga Minggu (9/12/2018), terjadi 204 letusan awan hitam setinggi 150-300 meter dengan durasi 31-72 detik diiringi 22 kali gempa vulkanik. (Antara-Weli Ayu Rejeki)

Solopos.com, BANDUNG -- Vulkanolog Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Mirzam Abdurrachman memberikan penjelasan tentang tsunami Selat Sunda yang menerjang wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan, Sabtu (22/12/2018) malam. Dia tak menampik aktivitas Gunung Anak Krakatau bisa menimbulkan tsunami.

Mirzam dalam siaran pers Humas ITB mengatakan gelombang tsunami yang mencapai garis pantai tanpa didahului adanya gempa atau surutnya muka laut menimbulkan banyak pertanyaan mengenai penyebab terjadinya. "Apakah gempa tektonik, pasang purnama, letusan anak krakatau atau bahkan tumbukan meteor di tempat tertentu," kata Mirzam, Minggu (23/12/2018).

Menurut dia, aktivitas Gunung Anak Krakatau terus menggeliat akhir-akhir ini ditandai lebih dari 400 letusan kecil dalam beberapa bulan terakhir. Letusan besar terjadi pukul 18.00 WIB dan terus berlanjut sampai Minggu pagi ini. Letusan itu terdengar hingga Pulau Sebesi yang berjarak lebih dari 10 km arah timur laut seperti di laporkan tim patroli.

"Suatu gunung yang terletak di tengah laut seperti halnya Anak Krakatau atau yang berada di pinggir pantai, sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan volcanogenic tsunami," katanya.

Mirzam menjelaskan volcanogenic tsunami bisa terbentuk karena perubahan volume laut secara tiba-tiba akibat letusan gunung api. Dia menuturkan ada empat mekanisme yang menyebabkan terjadinya volcanogenic tsunami.

Pertama, kolapsnya kolom air akibat letusan gunung berapi yang berada di laut. [perumpamaan ] Mudahnya seperti meletuskan balon pelampung di dalam kolam yang menyebabkan riak air di sekitarnya. Kedua, pembentukan kaldera akibat letusan besar gunung api di laut menyebabkan perubahan kesetimbangan volume air secara tiba-tiba.

"Menekan gayung mandi ke bak mandi kemudian membalikkannya adalah analogi pembentukan kaldera gunung api di laut," katanya.

Dia melanjutkan mekanisme pertama dan kedua itu pernah terjadi pada letusan Gunung Krakatau, tepatnya 26-27 Agustus 1883. Tsunami tipe ini seperti tsunami pada umumnya didahului oleh turunnya muka laut sebelum gelombang tsunami yang tinggi masuk ke daratan.

Ketiga, tsunami terjadi akibat longsoran material gunung api. Material yang longsor bisa menyebabkan memicu perubahan volume air di sekitarnya.

Menurut dia, tsunami tipe ini pernah terjadi pada letusan Gunung Unzen Jepang pada 1972. Saat itu banyaknya korban jiwa saat itu hingga mencapai 15.000 jiwa disebabkan karena pada saat yang bersamaan sedang terjadi gelombang pasang.

Keempat, kata Mirzam, adalah aliran piroklastik atau wedhus gembel yang turun menuruni lereng dengan kecepatan tinggi saat letusan terjadi. Hal ini bisa mendorong muka air jika gunung tersebut berada di atau dekat pantai.

"Tsunami tipe ini pernah terjadi saat Mount Pelee, Martinique, meletus pada 8 Mei 1902. Saat aliran piroklastik Mt Pelle yang meluncur dan menuruni lereng akhirnya sampai ke Teluk Naples, [aliran piroklastik] mendorong muka laut dan menghasilkan tsunami," katanya.

Dia menambahkan volcanogenic tsunami akibat longsor atau pun aliran piroklastik umumnya akan menghasilkan tinggi gelombang yang lebih kecil dibandingkan dua penyebab sebelumnya. Namun hal itu tetap bisa sangat merusak dan berbahaya karena tidak didahului oleh surutnya muka air laut seperti yang terjadi di Selat Sunda tadi malam. Mirza menuturkan diperlukan penelitian lebih lanjut buat memastikan penyebab utama tsunami di Selat Sunda.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom