Pencinta gowes asal Tangerang, Soeryo Widjoyo, melambaikan tangan kanan saat berpose di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen setelah perjalanan dari Jogja, Minggu (9/6/2019) sore. (Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Soeryo Widjoyo, warga Kelurahan Gebang Raya, Priuk, Kota Tangerang, menempuh perjalanan selama 4 hari 5 malam untuk mudik ke Jogja dengan bersepeda. Dari Jogja, laki-laki itu meneruskan perjalanan ke Bali.

Seorang pengendara sepeda Federal lawas berhenti di simpang tiga Pungkruk. Ia mengenakan helm kecil dengan pakaian khas olahraga bersepeda. Sebuah tas bronjong hitam lengkap dengan matras dan tiang bendera kecil jadi penghias bagian belakang sepeda. Di bagian depan terdapat buntalan plastik bermotif garis hitam dan putih.

Soeryo Widjoyo, 56, menuntun sepeda abu-abunya menghampiri polisi yang mengatur lalu lintas di persimpangan itu, Minggu (9/6/2019) sore. Laki-laki beruban itu berasal dari Jl. Rajawali 4 No. 7, RT 004/RW 011, Kelurahan Gebang Raya, Priuk, Kota Tangerang.

Ia bertanya jalan menuju Kota Sragen. Mendapat penjelasan, pria yang akrab disapa Pakde Soeryo itu melanjutkan bersepeda. Dalam durasi 15 menit, ia berhenti di depan Kantor Dinas Bupati Sragen.

Soeryo menengok kanan dan melihat dua air mancur setinggi enam meter dengan tulisan Sragen bewarna hijau. Di tempat itulah ia berjanji bertemu dengan temannya yang sudah tujuh tahun tak bertemu, sejak sama-sama bekerja di pabrik plastik di Tangerang.

Laki-laki itu meminta Solopos.com untuk mengabadikan momentum di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen. Ia membawa sepedanya menyeberang Jl. Raya Sukowati dan berpose di depan tulisan “Sragen”. “Yang penting sepeda ini. Apalah artinya berfoto tanpa sepeda ini. Air mancurnya dan tulisan ‘Sragen’ harus kelihatan ya!” kata dia seraya bergaya dengan melambaikan tangan kanan.

Soeryo adalah warga Tangerang yang mudik ke Jogja, tepatnya di Kampung Suryowijayan, Tamansari, Mantri Jeron. Semula ia mudik bersama istrinya, Kurniati, 53. Istrinya mudik naik mobil bersama rombongan keluarga lain sedangkan Soeryo memilih mudik dengan naik sepeda Federal kesayangannya.

Soeryo berangkat dari Tangerang pada Kamis (30/5/2019) selepas Tarawih dan tiba di Jogja pada Selasa (4/6/2019) waktu Subuh. Jarak Tangerang-Jogja ditempuhnya selama empat hari lima malam.

Bali

Setelah ber-Lebaran di Jogja selama lima hari, Soeryo memutuskan melanjutkan gowes-nya dengan tujuan Bali. Ia berangkat dari Jogja pada Minggu pukul 08.00 WIB dan tiba di Alun-alun Sragen, Senin pukul 16.00 WIB. Delapan jam lamanya.  Soeryo terobsesi mengelilingi Jawa dan Bali dalam aktivitas Tour de Jawa-Bali.

“Saat perjalanan dari Jogja-Sragen sempat mampir di Kandang Menjangan Kartasura, bertemu teman yang sudah 15 tahun tak jumpa. Sekarang di Sragen, saya mau mampir ke Tangen, bertemu teman yang sudah tujuh tahun tak berjumpa. Saya kencan dengan teman saya itu di alun-alun ini. Tadi sudah berkomunikasi saat memasuki tugu batas wilayah Sragen, ya Tugu Gading Grompol,” ujarnya sambil mengisap rokok filter di pinggir air mancur Sragen.

Sambil duduk di emperan alun-alun, Soeryo berkisah tentang perjalanannya mudik dari Tangerang ke Jogja. Sambil bersepeda, Ia tetap berpuasa. Soeryo memutuskan berjalan pada malam hari untuk menghindari panas.

“Saya biasa jalan dari pagi sampai pukul 10.00 WIB atau 11.00 WIB. Saat itu mencari masjid kemudian istirahat, salat, dan tidur. Sore harinya, mulai pukul 15.00 WIB jalan lagi sampai magrib cari masjid lagi. Selepas Tarawih, jalan lagi sampai Subuh baru cari masjid lagi. Begitu terus sampai Jogja,” kata dia.

Saat kecapaian, Soeryo berhenti dan menyadarkan sepeda di pinggir jalan yang sepi karena kanan kirinya hutan. Dia ingat pernah melihat sosok hitam berjalan sempoyongan mendekat.

“Saat itu saya membaca ayat-ayat Alquran. Yang saya bisa saya baca, tapi kok enggak hilang-hilang. Sudah pokoknya pasrah. Setelah mendekat, ia malah tertawa seperti mengejek. Kemudian lari dalam hutan lagi. Ternyata bukan penampakan, tetapi orang gila. Itu pengalaman tak terlupakan,” kisahnya.

Seusai berkisah, seorang pemuda mengendarai Yamaha Mio merah berteriak menyapa. Pemuda itu bernama Nanan Ari Listiyanto bersama anaknya yang juga teman Soeryo asal Tangen. Ia berpelukan dan seraya melepas kangen. Nanan sempat bekerja bersama Soeryo di pabrik plastik Tangerang dan berhenti pada 2012 lalu.

Tak berapa lama, seorang laki-laki menghentikan sepeda Federalnya di alun-alun. Ia menyapa Soeryo. Sesama pecinta gowes ternyata bersaudara. Laki-laki itu bernama Wanan, 52, warga Bandung yang tinggal di tempat mertuanya di Sidowayah, Sine, Ngawi, Jawa Timur.

Wanan baru saja pulang berkeliling di wilayah Gunung Kidul dengan sepeda gunungnya. Wanan pernah mudik naik sepeda gunung dari Bandung-Ngawi pada 2018 lalu. “Kalau tahun ini mudiknya naik kereta saja,” kata dia. Wanan, Soeryo, dan Nanan berfoto bersama di tugu titik nol Sragen yang juga terletak di Alun-alun sebagai kenangan bersama.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten