Ilustrasi sawah kering saat musim kemarau. (Bisnis-Rahmatullah)

Solopos.com, SURABAYA -- Sedikitnya 35.252 hektare (ha) lahan tanaman padi di Provinsi Jawa Timur (Jatim) terdampak kekeringan pada musim kemarau hingga pekan pertama Juli 2019.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo, menjelaskan saat ini total luas lahan tanaman padi di Jatim mencapai 1,92 juta ha, dan hingga 8 Juli lalu tercatat ada 35.525 ha lahan tanaman padi terkena kekeringan atau sekitar 1,83% nya terdampak.

“Akibat kekeringan tersebut, terdapat 5.978 ha lahan sawah padi yang mengalami puso atau tidak bisa menghasilkan padi yakni setara 0,30% dari total luas lahan tanaman padi,” jelasnya di Surabaya, Senin (15/7/2019).

Untuk diketahui, daerah yang mengalami kekeringan dan puso terluas tahun ini adalah Bojonegoro dengan lahan kering mencapai 15.632 ha dan puso 2.102 ha, disusul Lamongan 7.643 ha dan puso 1.239 ha, dan Ngawi 2.790 ha dengan puso 821 ha.

Hadi menambahkan sejumlah daerah yang masih sangat rawan mengalami kekeringan yakni Bojonegoro, Lamongan dan Pacitan, sedangkan daerah yang rawan kekeringan yakni Tuban. Sementara daerah yang cukup rawan yakni Lumajang, Tulungagung, Madiun, Ngawi, Mojokerto, dan Gresik.

“Daerah lain yang terolong aman dan cukup aman yakni Jember, Malang, Batu, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Magetan, dan Madura,” imbuhnya.

Hadi Sulistyo menjelaskan dampak dari musim kemarau tahun ini masih lebih rendah dibandingkan kekeringan pada 2018, yakni dari luas lahan tanaman padi 1,97 juta ha, lahan yang kekeringan mencapai 36.826 ha, dengan lahan yang puso mencapai 9.474 ha atau 0,48% dari total luas lahan tanaman.

“Lahan tanaman padi yang terkena puso tahun ini memang turun 38% kalau dibandingkan tahun lalu, tetapi memang total luas lahan tanamannya pun juga turun 2,2%,” katanya.

Untuk meminimalisir kerugian akibat kekeringan, pemerintah telah melakukan mitigasi dan antisipasi di antaranya seperti menyelamatkan standing crop tanaman yang sudha tertanam melalui mobilisasi pompa air. Saat ini ketersediaan pompa air di Provinsi Jatim ada sekitar 10.142 unit.

“Termasuk memastikan dan memanfaatkan dukungan jaringan irigasi tingkat usaha tani (JITUT) dan jaringan irigasi desa (Jides) yang ada untuk luas total 489.910 ha, dan memanfaatkan embung atau parit yang tersebar di Jatim dengan total 1.300 embung, dan mengoptimalkan lahan basah seperti rawa,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga meningatkan pengamatan intensif terhadap potensi perluasan kekeringan dan organisme pengganggu tumbuhan melalui gerakan pengendalian terpadu bersama TNI, tim daerah dan masyarakat ketika melakukan pergiliran varietas.

“Kami juga mengajukan bantuan benih melalui program cadangan benih nasional untuk pertanian yang mengalami puso dan memanfaatkan asuransi usaha pertanian padi,” imbuhnya.

Silakan KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Madiun Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten