31 Desa Sragen dan Karanganyar Berpotensi Kena Dampak Negatif Waduk Gondang
Para peserta mengikuti Sosialisasi Rencana Tindak Darurat atas pembangunan Waduk Gondang, Karanganyar, yang diadakan BBWSBS di Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Kamis (13/12/2018). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Sebanyak 31 desa di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Sragen berpotensi terkena dampak banjir bila konstruksi bendungan Waduk Gondang, Karanganyar jebol. Puluhan desa itu terdiri atas lima desa di dua kecamatan di Karanganyar dan 26 desa di lima kecamatan di Sragen. Jumlah penduduk yang berisiko terkena dampak mencapai 27.600 jiwa.

Potensi dampak banjir tersebut mencuat dalam Sosialisasi Rencana Tindak Darurat (RTD) yang diadakan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) di Pendapa Bupati Sragen, Kamis (13/12/2018). Dalam kesempatan itu, Kepala BBWSBS diwakili Kabag Kepegawaian dan Tata Usaha BBWSBS Budi Sucahyono. Bupati Karanganyar Yuliatmono hadir sendiri. Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno mewakili Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati membuka acara tersebut.

Para tamu yang hadir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Camat, Kapolsek, Danramil, hingga kepala desa (kades) yang terkena dampak di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Sragen. Data dampak banjir bila bendungan jebol itu disampaikan perwakilan dari konsultan BBWSBS, yakni PT Multimera Harapan.

“Progres pembangunan Bendungan Gondang sudah mencapai 96%. Waduk Gondang diproyeksi selesai pada April 2019. Volume tampungan waduk mencapai 9 juta meter kubik dengan area irigasi 4.630 hektare sehingga untuk tanam bisa meningkat 250%-300%. Suplesi [tambahan] air bakunya mencapai 200 liter per detik yang dibagi untuk Karanganyar 100 liter per detik dan Sragen 100 liter per detik,” ujar Budi Sucahyono dalam forum terbuka itu.

Budi melanjutkan pembangunan Waduk Gondang itu ada sisi positif dan negatifnya. Dia menerangkan sosialisasi RTD ini merupakan sosialisasi potensi negatifnya. Dia mengungkapkan potensi negatif itu terjadi ketika terjadi kegagalan bangunan karena kelebihan kapasitas sehingga berdampak pada bendungan jebol. Untuk lokasi yang terkena dampak, kata dia, dijelaskan dari pihak konsultan, takni PT Mutimera Harapan.

“Sebelum bendungan itu digunakan untuk tampungan air maka harus ada sertifikasi keamanan bendungan. Sebelum bendungan diisi air syaratnya harus ada sertifikat itu. Sosialisasi RTD ini sebagai syarat untuk mendapat sertifikasi itu,” ujarnya.

Wakil Bupati (Wabup) Sragen Dedy Endriyatno sempat kaget mendengar bahwa ada 26 desa yang menyebar di lima kecamatan di Sragen yang terkena dampak banjir bila bendungan jebol. Kendati demikian, dia menyadari manfaat bendungan tersebut lebih banyak diterima warga Sragen untuk lahan pertanian.

“Seperti halnya Waduk Kedung Ombo, Sragen mendapat pahala karena air WKO banyak ke Grobogan dan seterusnya. Kalau Waduk Gondang, Karanganyar yang mendapat pahala karena manfaatnya ke Sragen. Ya, berbagi pahala saja,” ujarnya.

Bupati Karanganyar Yuliatmono menjelaskan Waduk Gondang itu didesain untuk wisata secara jangka panjang. Dia menjelaskan sabuk hijaunya nanti berupa kebun duren dan ada semacam dermaganya juga. “Ya, pengelolaannya nanti kerja sama antara Kementerian dan kabupaten,” tuturnya.

Yuli berharap bendungan itu tidak jebol karena konstruksinya sudah dibuat sedemikian kuatnya. Kendati demikian sosialisasi kepada warga yang terkena dampak, kata dia, tetap dilakukan. “Dari posisinya, kalau jebol air lari ke Sungai Garuda semua. Permukiman penduduk berada di daerah lebih tinggi dari bibir sungai. Kalau pun jebol kecil kena penduduk. Ya, memang ada lima desa yang dilewati. Tapi Sragen lebih banyak ada 26 desa,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom