SOLOPOS.COM - Jembatan yang dibangun secara swadaya oleh warga dan menjadi andalan untuk menghubungkan Klaten-Sukoharjo di Dukuh Bogor, Desa Bener, Kecamatan Wonosari, terputus, Jumat (17/2/2023). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Jembatan penghubung Klaten-Sukoharjo yang dibangun secara swadaya oleh warga Dukuh Bogor, Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Klaten, putus gara-gara diterjang derasnya arus sungai, Kamis (16/2/2023) malam.

Kini, warga setempat harus memutar melintasi jalur lain untuk menuju Sukoharjo. Jembatan itu sebelumnya melintang di atas Kali Jebol menghubungkan Dukuh Bogor, Desa Bener dengan Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Promosi Strategi Telkom Jaga Jaringan Demi Layanan Telekomunikasi Prima

Jembatan sebelumnya memiliki lebar 1,5 meter dengan panjang sekitar 15 meter. Putusnya jembatan itu terjadi pada Kamis sekitar pukul 19.30 WIB. Hujan deras di sejumlah wilayah membuat debit sungai meningkat termasuk di alur Kali Jebol.

Air sungai tersebut meluap hingga menggenangi permukiman di Dukuh Bogor dengan ketinggian air sempat mencapai 1 meter. Tak hanya membikin banjir, meningkatnya debit Kali Jebol membuat jembatan Klaten-Sukoharjo yang dibangun secara swadaya oleh warga putus.

Salah satu warga Desa Bogor, Sriyanto, 50, menjelaskan jembatan itu selama 30 tahun menjadi andalan warga setempat untuk menuju ke wilayah Sukoharjo maupun sebaliknya. Baik warga yang bekerja, sekolah, dan lain-lain mengandalkan jembatan itu.

Adanya  jembatan itu mempersingkat jarak dan waktu tempuh warga menuju ke Sukoharjo seperti ke wilayah Solo Baru, Baki, dan lain-lain. Karena jembatan putus, harus memutar sampai 2 km untuk menuju ke Sukoharjo.

“Harapan warga kepada pemerintah, tolong kami diberikan akses jembatan karena penting untuk aktivitas warga kami,” kata Sriyanto saat ditemui Solopos.com di dekat jembatan Klaten-Sukoharjo yang putus, Jumat (17/2/2023).

Warga lainnya, Santo, 33, menjelaskan jembatan itu dibangun secara swadaya oleh warga. Secara bertahap warga urunan dan membangun sedikit demi sedikit jembatan tersebut.

“Setiap Minggu bikin pon, urunan. Setelah terkumpul dibelikan bahan untuk membangun jembatan. Sebelumnya dibuat jembatan menggunakan bambu,” kata Santo.

Selama lebih dari 30 tahun jembatan itu menjadi akses andalan warga menuju ke wilayah Sukoharjo terutama untuk bekerja. Kini, jembatan yang dibangun dari jerih payah warga itu tinggal kenangan.

“Semalam itu setelah jembatan putus, warga datang ke sini. Semuanya menangis. Warga bukan sedih karena rumahnya kebanjiran. Tetapi sedih melihat jembatan hasil perjuangan bersama-sama akhirnya putus,” kata Santo.

Salah satu warga Dukuh Bogor, Sardiman, 42, juga mengungkapkan jembatan itu murni dibangun secara swadaya oleh warga. Dia berharap pemerintah bisa membangunkan kembali jembatan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya