Capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (kanan) dan Ma\'ruf Amin (kiri) melambaikan tangan sebelum berangkat menuju Bandara Halim Perdanakusuma untuk memberikan keterangan pers terkait putusan sengketa hasil Pilpres 2019 di MK, Jakarta, Kamis (27/6/2019). (Antara-Akbar Nugroho Gumay)

Solopos.com, JAKARTA -- Spekulasi pergantian menteri di pemerintahan baru Jokowi terus bergulir. Sejumlah posisi menteri diperkirakan bakal menjadi sasaran pergantian untuk kepemimpinan lima tahun mendatang.

Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan setidaknya terdapat tiga menteri yang terancam digantikan sebelum pemerintahan baru dimulai. Pasalnya ketiga posisi menteri ini mulai berhadapan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ketiganya yaitu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Ketiganya kerap disebut dalam penyidikan kasus dugaan suap.

"Kondisi itu mengganggu Jokowi secara citra. Pasti sebentar lagi akan diganti karena berurusan dengan KPK," katanya kepada Bisnis, Rabu (3/7/2019).

Imam Nahrawi diduga KPK masuk dalam daftat penerima suap hibah KONI. Adapun Enggartiasto Lukita disebut-sebut dalam pemeriksaan kasus suap bidang pelayaran yang menyangkut anggota DPR Komisi VI, Bowo Sidik.

Adapun Lukman Hakim Saifuddin telah mengakui menerima dana suap dari atase Kerajaan Arab Saudi. Polisi menemukan senilai US$ 30.000 uang dari halal laci kerjanya.

Menilai hal tersebut, Jokowi diperkirakan perlu melihat secara subjektif bagaimana seorang menteri berpengaruh terhadap citra dirinya. Jika dianggap mengganggu, presiden bakal mengganti sengan sosok lainnya.

Hal serupa seperti dialami Rizal Ramli. Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dinilai cukup berkualitas. Namun karena dinilai mengganggu kinerja pemerintahan, Jokowi akhirnya menggantinya dengan tokoh lain.

Jokowi selama ini dinilai tidak segan untuk mengganti para pembantunya jika berulah. Pun di periode kedua ini, presiden biasanya akan membuat warisan dan meninggalkan jejak sejarah positif di hadapan dunia.

"Yang dievaluasi paling gampang adalah secara subjektif saja menurut dia. Apakah menteri ini sudah bisa menerjemahkan apa maunya dia atau apakah menteru itu bisa menerjemahkan visi misinya atau target yang selama ini di laksanakan berhasil apa tidak," ujarnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten