Warga antre mengambil air bersih saat dropipng air bersih oleh Perumda Toya Wening Solo di Mojo, Pasar Kliwon, Solo, Jumat (1/11/2019). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Polutan berat yang mencemari Sungai Bengawan Solo berbuntut panjang.

Setelah Kamis (31/10/2019) Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumda Air Minum Toya Wening di Semanggi Solo berhenti beroperasi, pada Jumat (1/11/2019), IPA Jurug dan Jebres menyusul menyetop pengolahan air.

Berdasarkan pantauan solopos.com, kondisi Sungai Bengawan Solo berwarna hitam. Tampak beberapa ikan mati di tepi sungai.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi Perumda Toya Wening, Bayu Tunggul, mengaku belum mengetahui apakah polutan yang mencemari intake IPA Jurug dan IPA Jebres sama dengan IPA Semanggi.

Namun dipastikan kualitas air sungai tersebut di bawah baku mutu. Jumlah warga terdampak akibat penghentian operasional ketiga IPA tersebut mencapai 18.000 pelanggan.

Kendati begitu, Perumda Toya Wening masih melayani ribuan pelanggan lain dari sumur dalam ataupun mata air Cokro Tulung.

“Pelanggan dari IPA Jebres tidak bisa mendapatkan air bersih dari sumur dalam maupun Cokro Tulung, sedangkan yang dari IPA Semanggi masih bisa dari Cokro Tulung meskipun sedikit," jelasnya.

Solusi terdekat, Perumda Toya Wening mengirimkan tangki air ke pemukiman warga. Pada Jumat sekitar pukul 10.00 WIB, warga dua RT di RW 006 Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon, Solo, mendapatkan dropping air bersih satu tangki atau sekitar 4.000 liter.

Jumlah itu hanya mencukupi 30an keluarga.

Salah satu warga RT 002/RW 006, Kelurahan Mojo, Ituk, mengaku air mati sejak kemarin.

“Ini saya enggak punya tandon air sama sekali. Jadi memakai gentong. Semoga cukup untuk masak. Karena kalau untuk mencuci atau mandi sangat sayang sekali,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten