3 Dokter UNS dan Sukarelawan Tim SAR Bakorlak Bertolak ke Lumajang

Kedelapan personel yang berangkat ke Lumajang itu terdiri atas tiga dokter, tiga sukarelawan SAR dan dua sopir.

Abu Nadzib - Solopos.com
Senin, 6 Desember 2021 - 01:34 WIB

SOLOPOS.COM - Pembantu Rektor III, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo (kanan), Senin (6/12/2021) dini hari, melepas dokter yang akan berangkat membantu korban erupsi Semeru. (Istimewa/ Ika UNS)

Solopos.com, JAKARTA — Tim gabungan dari UNS, Ikatan Alumni (Ika) UNS, dan SAR Bakorlak memberangkatkan delapan personel ke lokasi bencana erupsi Semeru di Jawa Timur, Senin (6/12/2021) dini hari.

Kedelapan personel yang berangkat ke Lumajang itu terdiri atas tiga dokter, tiga sukarelawan SAR dan dua sopir.

Keberangkatan para sukarelawan bencana itu dilepas Pembantu Rektor III UNS, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, dan sejumlah jajaran UNS.

“Tim dilepas Profesor Kuncoro. Terdiri atas satu dokter, dua dokter muda dan sukarelawan,” ujar Bendahara Ika UNS Peduli, Ratih Pusparani, saat dihubungi Solopos.com, Senin dini hari.

Ratih mengatakan, tim akan bergabung dengan sukarelawan lain di lokasi bencana. Tim akan bertugas selama 10 hari ke depan. “Tim di bawah koordinasi Ketua IDI Lumajang. Nanti di sana selama 10 hari tapi akan bergantian dengan yang lain timnya. Rotasi lima hari, lihat sikon,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Ika UNS berperan dalam penyediaan ambulans, masker sebanyak 3.000 lembar, desinfektan sebanyak tiga derigen. UNS menyediakan obat-obatan dan tim medis dari Fakultas Kedokteran. “Sedangkan Tim SAR Bakorlak menerjunkan sukarelawan,” katanya.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, saat ini sukarelawan dari berbagai daerah berbondong-bondong berangkat ke Lumajang, Jawa Timur untuk membantu korban bencana erupsi Gunung Semeru.

Erupsi besar yang tak diprediksi memang membuat kaget banyak pihak.

Badan Geologi Kementerian ESDM mendapat laporan erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12/2021) mencapai tinggi 24 kilometer. Diduga erupsi besar tersebut akibat curah hujan ekstrem.

24 Kilometer

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Eko Budi Lelono menyebut meski belum dapat memastikan tinggi letusan gunung Semeru tersebut namun ada dua laporan yang menyebut ketinggian mencapai 24 kilometer.

“Ada info yang menyebutkan 11 km ada yang menyebut 45 km. Tapi kami masih selidiki karena tidak mudah juga untuk mencapai lokasi tersebut,” kata Eko dalam konferensi virtual yang dikutip Okezone, Minggu (5/12/2021).

Eko menjelaskan, pihaknya juga masih melakukan pendalaman perihal penyebab erupsi Gunung Semeru tersebut. Sebab, dari rekaman yang pihaknya miliki tidak tanda-tanda adanya erupsi.

Dia menduga erupsi yang terjadi pada Gunung Semeru karena faktor eksternal. Hal yang perlu diperhatikan dari peristiwa erupsi tersebut adalah curah hujan ekstrem.

“Yang perlu kita waspadai tingkat curah hujan ini tidak ekstrem sehingga tidak memicu hal-hal lain. Karena record sebelum-sebelumnya normal saja. Apakah ada faktor eksternal curah hujan tinggi sehingga menyebabkan ketidak kestabilan kubangan sehingga peluncurannya cukup jauh,” jelasnya.

Setelah itu, gunung kembali erupsi sebanyak tiga kali selama 24 jam terakhir. Sesuai ciri khasnya erupsi gunung Semeru yakni mengeluarkan awan panas.

“Memang setelah letusan kemarin masih kita rekam beberapa erupsi lagi yaitu semburan awan panas. Ya ini ciri khas gunung Semeru yakni awan panas guguran setidaknya ada tiga,” kata Eko.

Erupsi susulan pertama terjadi pada pukul 00.30 WIB di hari Minggu (5/12/2021). Kemudian kedua setelah shalat Subuh itu awan panas guguran dan ketiga pukul 10.00 WIB lebih.

“Dua pertama tidak terlihat seberapa jauh luncurannya karena situasi tertutup kabut. Yang jam 10 pagi lebih kurang 2 KM dari puncak luncurannya,” jelasnya.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif