Pegawai Bappeda Klaten menunjukkan sampel beras Rajalele Srinuk dan Srinar yang diluncurkan di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Selasa (22/10/2019). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Varietas baru padi Rojolele Srinuk dan Srinar terus dikembangkan di Kebupaten Klaten dan kini dalam tahap memperbanyak benih.

Ditargetkan, akan ada 3.500 kg benih disebar ke petani Klaten secara gratis tahun depan.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Widiyanti, mengatakan proses memperluas penanaman benih padi varietas baru tak bisa spontan dilakukan. Ada tahapan yang harus yakni proses sertifikasi benih.

“Saat ini menyiapkan untuk menghasilkan benih sebar. Untuk prosesnya itu tidak bisa spontan. Benih harus melalui tahapan sertifikasi dulu,” kata dia saat ditemui solopos.com di Gedung Sunan Pandanaran Klaten, pekan lalu.

Dia menjelaskan proses pengembangan benih sebar hingga sertifikasi itu diperkirakan membutuhkan waktu enam hingga delapan bulan. Pada tahap awal, benih yang disebar ke petani di Klaten itu ditargetkan seberat 3.500 kg.

“Insyaallah itu gratis kepada petani di Klaten dan diberikan pada 2020 nanti,” kata dia.

Kabid Penelitian Pengembangan Pengendalian dan Ealuasi Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten, M. Umar Said, mengatakan seusai Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk pelepasan benih Rojolele Srinuk dan Srinar diterima, pemkab mulai mengarah pada penanaman serentak.

Syarat utama penanaman serentak yakni benih harus berlabel.

“Kami segera berkomunikasi dengan BPSP [Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih] Jawa Tengah. Selain itu kami memproses hak paten atas varietas baru ini,” kata Umar.

Umar mengatakan Rojolele Srinuk dan Srinar merupakan varietas lokal yang hanya diperbolehkan dikembangkan di Klaten. Sementara, hasil produksi padi itu bisa dipasarkan ke berbagai daerah. Pillihan menjadikan Rojolele Srinuk dan Srinar sebagai varietas lokal agar menjadi ciri khas Kabupaten Bersinar.

Peluncuran Rajalele Srinuk dan Srinar digelar di lahan penanaman rajalele Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Selasa (22/10/2019) lalu. Pada peluncuran itu juga dilakukan penyerahan SK pelepasan varietas rojolele serta penyerahan dokumen pendaftaran kepemilikan varietas tanaman Kementan kepada bupati.

Kepala Bappeda Klaten, Sunarna, mengatakan pengembangan varietas baru rojolele itu dilakukan sejak 2013. Pengembangan merupakan kerja sama pemkab dengan Batan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Salah satu petani Desa Gempol yang terlibat pada penelitian varietas padi itu, Nusanto Herlambang, mengatakan peluncuran varietas baru padi rojolele itu sudah dinantikan para petani.

Soal hasil produksi, Nusanto menjelaskan jika ditanam pada lahan organik, padi yang dihasilkan untuk satu musim panen rata-rata 6,5 ton-7 ton per ha. Sementara, jika dikembangkan pada lahan konvensional hasil yang diperoleh bisa mencapai 9 ton hingga 10 ton per ha.

“Untuk yang ditanam pada lahan konvensional itu bisa laku dijual ke konsumen Rp14.000/kg. Sementara, kalau yang ditanam dengan sistem organik laku Rp18.000/kg hingga Rp20.000/kg,” jelas dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten