Pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Soekarno Hatta ketika kabut asap pekat dampak karhutla menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9/2019). (Antara/Rony Muharrman)

Solopos.com, PALANGKARAYA -- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga pekan kedua September 2019 telah menyebabkan 3.394 orang di Kalimantan Tengah menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Angka tersebut diungkapkan Dinas Kesehatan Kalteng mengingat kabut asap masih merajalela.

"Jumlah penderita ISPA itu mengalami peningkatan sekitar 495 orang dibandingkan pekan pertama September 2019 sebanyak 2.889 orang," kata Kepala Dinkes Kalteng, Suyuti Syamsul, di Palangkaraya, Sabtu (21/9/2019).

Untuk mengantisipasi agar jumlah korban tidak terus meningkat, sejak Agustus 2019 Dinkes mengaktifkan posko pelayanan kesehatan di Pusdalops BPBPK. Selain itu, lanjut dia, Dinkes Kalteng juga mengaktifkan emergency mobile team yang bertugas memberi pelayanan kepada petugas lapangan pemadam lahan terbakar serta penduduk sekitar daerah terdampak kabut asap.

Suyuti mengatakan pemerintah provinsi pun telah berkoordinasi dengan pihak terkait, terutama dalam hal upaya pelayanan kesehatan. Bupati/Wali Kota se-Kalteng juga sudah disurati agar membebaskan biaya pengobatan, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan atau BPJS Kesehatan.

"Sekarang ini kan Kalteng sudah menetapkan status tanggap darurat. Jadi penanganan kesehatan tentunya harus diperhatikan," kata dia.

Berdasarkan data Dinkes Kalteng, rumah sehat oksigen yang tersebar di seluruh provinsi ini ada 194 unit. Rumah sehat oksigen itu tersebar di 159 puskesmas, 20 rumah sakit dan 15 di aula pemerintah maupun bangunan milik masyarakat.

Kepala Dinkes Kalteng mengakui luasnya wilayah ini membuat banyak masyarakat terpapar kabut asap masih banyak yang belum terjangkau. Untuk itulah, pihaknya menyiapkan dua unit bus dan tiga ambulan memberikan pelayanan oksigen kepada masyarakat.

"Jadi ini mobil oksigen bergerak di berbagai titik kumpul masyarakat. Harapannya, tidak bertambah lagi masyarakat yang terkena ISPA," demikian Suyuti.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten