Kelompok ke-39 yang dikoordinasi Sri Mulyani, 64, warga Krapyak RT 041/RW 012, Sragen Wetan, Sragen, melipat dan menyortir surat suara pilpres di Gedung IPHI Krapyak, Sragen, Jumat (8/3/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 250 orang memadati Gedung IPHI Krapyak, Sragen Kota, Sragen, Jumat (8/3/2019). Setiap orang yang masuk gedung di depan Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen itu diperiksa tim Polres Sragen dengan menggunakan metal detector.

Kaum perempuan diperiksa enam orang wanita polisi (polwan) dan kaum lelaki diperiksa enam orang personel bhayangkara. Begitu masuk gedung, mereka membuat kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan empat orang per kelompok.

Setiap kelompok memegang nomor urut masing-masing seperti tertulis dalam surat pernyataan bermeterai Rp6.000 yang dipegang koordinator kelompok. Mereka adalah para pekerja borongan yang bertugas menyortir dan melipat surat suara.

KPU baru menerima logistik surat suara untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sebanyak 792.438 lembar. “Sebentar, surat suaranya baru diambil dari gudang KPU,” ujar Kasubag Umum Logistik dan Keuangan KPU Sragen, Suprapto, menenangkan warga.

Sambil menunggu surat suara, Suprapto menyampaikan tata tertib penyortiran, pelipatan, dan pengesetan surat suara. Ia juga menyampaikan kriteria surat suara yang tidak layak, rusak, atau catat, misalnya gambar kabur, kertasnya mengkerut, sobek, berlubang, terdapat bercak tinta, logo KPU tak jelas, dan seterusnya.

Sesaat kemudian, sebuah mobil Isuzu Panther warna biru masuk ke halaman Gedung IPHI. Sejumlah petugas segera membuka pintu mobil pembawa surat suara itu. Surat suara diangkut ke dalam gedung.

“Sekarang mulai dari kelompok I, II, dan seterusnya secara bergantian mengambil surat suara. Satu kelompok satu dus dulu. Kalau habis baru ambil lagi,” ujar Suprapto.

Sesaat kemudian, puluhan orang berjubel di tempat pengambilan dus berisi 2.000 surat suara itu. Petugas pun menjadi kewalahan untuk melayani. Tak sedikit yang kelompok dengan nomor urut banyak protes karena pengambilannya tidak tertib.

Sri Mulyani, 62, warga Widoro RT 041/RW 012, Sragen Wetan, lega setelah mendapat satu dus surat suara. Ia duduk lesehan sambil melipat surat suara itu sesuai petunjuk KPU.

“Pak, nanti dapat makan tidak? Kami tidak bawa bekal dari rumah ini,” ujarnya kepada Suprapto.

Suprapto hanya tersenyum seraya mengelengkan kepala. Hal itu tak membuat Sri patah semangat. Ia semangat bekerja melipat surat suara bersama tiga rekan kerjanya, Supriyanus, 50, warga Nglangon, Karangtengah, Karti, 53, dan Diyah, 33, yang keduanya warga Krapyak, Sragen Wetan.

“Kamu yang menerawang saja agar terlihat yang berlubang. Saya yang melipat. Mbak Karti juga ikut menyortir saja ya! Biar cepat,” pinta Sri kepada Supriyanus dan Karti.

Mereka merupakan kelompok ke-39. Di sebelahnya ada kelompok ke-38 yang juga beranggotakan empat orang. Kelompok tersebut cukup unik karena bapak, ibu, dan anak menjadi satu tim.

Sukiman, 65, pensiunan Kepala SDN 1 Gebang, Sukodono, mengajak istrinya yang juga pensiunan guru, Suryani, 60, dan anak perempuannya, Sri Rejekiningsih, 37. Bahkan cucunya pun diajak karena tidak ada yang momong.

Hanya Torisah, 39, yang bukan satu keluarga tetapi tetangga di Kampung Krapyak RT 033/RW 010, Sragen Wetan. Mereka bekerja dengan sistem borongan dengan upah Rp30 per lembar surat suara pilpres. Kalau untuk surat suara DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten upahnya senilai Rp100 per lembar, sedangkan upah untuk pelipatan surat suara DPD Rp70 per lembar.

“Saat masuk dan keluar gedung harus diperiksa dengan metal detector. Hal itu dilakukan untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti indikasi kecurangan, dan seterusnya. Istilahnya mereka disterilisasi. Hal itu dilakukan setiap hari dengan menerjunkan 12 orang petugas sterilisasi pekerja pelipatan surat suara,” kata Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan saat meninjau ke Gedung IPHI itu.

Kapolres menyampaikan kalau ditemukan indikasi kecurangan langsung diserahkan kepada KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai lembaga penyelenggara pemilu. Kapolres mengaku hanya membantu pengamanan supaya tidak muncul kecurigaan yang tidak perlu.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten