#2019TetapJokowi Dituding Tiru #2019GantiPresiden, Benarkah?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Mensesneg Pratikno seusai meninjau Kantor Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat (23/3/2018). (Antara-Puspa Perwitasari)

Solopos.com, JAKARTA -- Perang hashtag atau tagar antara pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kelompok yang ingin ganti presiden tak hanya sebatas di dunia maya. Persaingan antargerakan politik tersebut juga diwarnai saling kritik tagar lain.

Koordinator Gerakan #2019GantiPresiden Efendy Saman menilai gerakan #2019TetapJokowi lahir atas emosional semata. Hal tersebut mengacu pada gerakan ganti Jokowi yang sudah gencar bergerak secara masif sebelumnya.

Efendy pun merasa tagline yang digunakan oleh para militan Jokowi tersebut tidak kreatif karena cenderung meniru dari gerakan #2019GantiPresiden. "Ganti Jokowi ini sudah booming ke mana-mana jadi menurut saya ini tidak mungkin bisa menyaingi kita. Kalau mereka cerdas mereka mesti mencari yang baru," katanya saat ditemui di Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu (21/4/2018), dilansir Suara.com.

Mantan relawan Jokowi 2014 itu pun mencontohkan gerakan #2019TetapPresiden dengan gerakan kemeja kotak-kotak yang pernah digunakan pada kampanye Pilpres 2014 lalu.

"Sama waktu dulu kita membangun relawan Jokowi. Baju kotak-kotak begitu sangat popular. Tapi kalau baju kotak-kotak digunakan kembali itu tidak lagi produktif. Maka, mereka harus cerdas membuat tagline baru yang lebih berguna," katanya.

Sebelumnya hashtag #2019GantiPresiden dipopulerkan pertama kali oleh ketua DPP PKS Mardani Ali Sera di akun twitternya. Efendy mengklaim hingga saat ini kepopuleran tagar tersebut sudah tersebar sampai Singapura, Turki hingga Arab Saudi.

Hal ini berbeda dengan pernyataan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman beberapa waktu lalu yang menyebutkan tagar itu merupakan reaksi atas gerakan pro Jokowi. Dengan begitu, ujarnya, hal tersebut juga bisa menjadi antitesa dari gerakan Dua Periode Presiden Jokowi.

"Jadi menurut saya, gerakan ini adalah respons spontan dari masyarakat yang memang ingin perubahan. Selain itu, yang cetuskan gerakan ini pertama adalah Mardani ya," tutur Sohibul, Senin (9/4/2018), dilansir Solopos.com beberapa waktu lalu.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom