WNI GABUNG ISIS : Antisipasi ISIS, Warga Solo Diawasi Sampai Tingkat RT

Indah Septianing Wardani/JIBI/Solopos
Jumat, 27 Maret 2015 - 15:30 WIB

SOLOPOS.COM - Sejumlah anggota Sapol PP Sukoharjo menghapus gaffiti ISIS di kawasan Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Selasa (5/8/2014). (Iskandar/JIBI/Solopos)

WNI gabung ISIS kini menjadi momok. Kini, setiap lurah dan pengurus RT/RW diminta mengawasi warganya.

Solopos.SOLO — Seluruh pengurus RT/RW di wilayah Solo diminta aktif mengawasi segala bentuk kegiatan di lingkungan masing-masing. Mereka juga diminta mendata setiap penduduk yang datang dan pergi untuk mengantisipasi berkembangnya paham radikal seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Kota Solo.

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo Budi Suharto ketika dijumpai Solopos.com di Balai Kota, Kamis (25/3/2015) petang, mengatakan telah meminta lurah untuk mendata penduduk termasuk kontrakan dan indekos di lingkungan masing-masing.

Dari lurah, instruksi ini nanti akan ditindaklanjuti sampai ke tingkat RT/RW. Dia menegaskan pendataan penduduk dilakukan bukan lantaran mencurigai siapa penghuni rumah tersebut, namun sebagai langkah antisipasi masuknya kelompok radikal termasuk ISIS Indonesia. Selain itu mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban.

“Keterlibatan RT/RW mengawasi wilayahnya sangat penting. RT/RW harus aktif ketika ada kegiatan yang mencurigakan di lingkungannya langsung melaporkan,” katanya.

Sekda juga mengatakan telah menerjunkan petugas perlindungan masyarakat (linmas) untuk memantau dan mengawasi kegiatan ke wilayahannya. Tak hanya itu, Pemkot Solo semakin mengintensifkan penyuluhan, utamanya kepada pelajar terkait paham radikal.

Penyuluhan ini dilakukan lantaran masuknya Kota Solo di Indonesia yang berpotensi berkembangnya kelompok radikal. Apalagi, dia mengatakan adanya beberapa peristiwa yang terjadi di Solo, termasuk dekalarasi dan bermunculannya lambang ISIS.

Menurutnya, perlu dilakukan upaya pencegahan berkembangnya paham radikal tersebut. Upaya itu antara lain dengan melakukan penyuluhan dan mengoptimalkan forum keagamaan yang ada. “Kita lakukan komunikasi persuasif,” terangnya.

Suharso mengatakan sasaran penyuluhan paham radikal lebih mengarah kepada pelajar di Kota Solo. Hal ini dinilai sangat penting mengingat pelajar masih dalam kondisi labil sehingga mudah untuk dipengaruhi. “Kami melakukan deteksi dini penyebaran paham radikal di Solo. Hal ini sebagai upaya mengantisipasi kemunculan gerakan radikal,” katanya.

Dia mengatakan diperlukan peran serta masyarakat dalam mengantisipasi gerakan radikal. Tentunya juga mengantisipasi paham yang tidak sejalan dengan pemerintah.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif